Hendaknya … (dan Jilbab)

Ada pengalaman lucu dan sedikit pahit ketika berinteraksi dengan seseorang ketika bicara masalah jilbab.
Ketika dibawakan ayat tentang wajibnya memakai jilbab:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: HENDAKNYA mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).

Orang itu mengatakan, “Sudahlah jangan terlalu ekstrem, di ayatnya sudah jelas hanya dikatakan “hendaknya…” berarti pakai jilbab itu tidak wajib”.
Ternyata orang ini mengambil kesimpulan hukum syar’i dari terjemah ayat yang di sana ada kata “hendaknya…”!
Tentu saja ini tidak benar, karena yang menjadi dalil adalah ayatnya bukan terjemahannya. Terjemahan itu sekedar membantu kita untuk memahami ayat bagi yang tidak bisa bahasa Arab atau tidak paham makna ayat. Oleh karena itu, dalam ilmu ushul fikih, yang dibahas adalah teks-teks Arab dari ayat dan hadits, bukan terjemahnya.
Dan terjemahan pun bisa benar dan bisa keliru. Terjemahan yang benar pun terkadang tidak merepresentasikan makna ayat secara lengkap karena keterbatasan bahasa Indonesia. Terjemahan pun bisa diselipkan pendapat dan pemahaman dari penerjemah.

Intinya, jangan menyimpulkan hukum syar’i dari terjemahan.

Adapun terjemahan “hendaknya” ini biasanya hanya untuk memperhalus dan memberikan rasa yang lembut pada perintah-perintah dalam ayat atau hadits. Jadi, aslinya kalimat perintah, namun agar lebih halus digunakan kata “hendaknya”.

Daripada menggunakan “pakaikanlah jilbab…”, “gunakanlah jilbab…”, “suruh mereka pakai jilbab…”, dll maka tentu lebih halus jika menggunakan kata “hendaknya mereka mengulurkan jilbab…”. Namun tetap saja isinya adalah perintah yang nilainya wajib.

‘ala kulli haal, itulah realita masyarakat kita yang masih sangat awam terhadap agamanya. Yok kita terus semangat belajar agama dan mengajarkannya terutama kepada orang-orang terdekat kita.

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Ustadz Yulian Purnama

Join channel telegram @fawaid_kangaswad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: