Feminisme, Borjuasi dan Proletariat

Ada seorang wanita yg otaknya telah teracuni oleh pemikiran para feminis bercita-cita menjadi seorang wanita karir yg mandiri, berpendidikan tinggi dan tidak bergantung pada laki-laki. Jenjang demi jenjang pendidikan ia tempuh untuk mencapai cita-citanya, setelah lulus ia bekerja di perusahaan besar. Karena prestasinya ia pun menduduki jabatan penting dalam perusahaan tersebut, demikian juga dengan penghasilannya, ia benar-benar tak lagi bergantung pada peranan laki-laki, bahkan ia menjadi atasan mereka dimana ia bisa memerintah mereka sekehendak hatinya.


Meski menjadi seorang wanita karir, ia tak lupa dengan kodratnya sebagai seorang wanita yg juga merasakan jatuh cinta, menikah, membangun kehidupan rumah tangga dan memiliki anak. Hanya saja ia enggan untuk mengurus setiap urusan rumah tangganya dengan tangannya sendiri, sepasang tangannya tetap terlihat halus, lembut dan cantik kerana seumur hidupnya tidak pernah bersentuhan dengan cucian, piring kotor, sapu, lap, pel apa lagi kemoceng. Semuanya ia serahkan kpd pembantunya. Demikian juga dengan urusan anak, tugasnya hanya mengandung dan melahirkan belaka, itu pun pake sesar krn gak ingin salah satu asetnya rontok dimakan usia. Selebihnya untuk urusan mandiin, ganti popok, ngasih makan, menidurkan sampai pendidikannya pun ia serahkan kepada baby sitter dan lembaga pendidikan bergengsi. Sudah tentu ia tak perlu keberatan mengeluarkan sejumlah uang untuk urusan itu.


Apa yg terjadi setelahnya? Anak yg ia kandung tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yg serba berkecukupan, berprestasi dengan sederet privilegenya namun miskin empati. Bisa jadi tiktoker-selebgram crazy rich sultan-wannabe yg sering ngonten mamerin kekayaan orang tuanya adalah hasil dari didikan orang-orang semacam mereka. Sementara anak-anak dari para pembantu dan baby sitternya hidup seadanya meski tak kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Mereka seakan dipaksa untuk melanjutkan estafet nasib yg diturunkan dari orang tuanya karena kemiskinan, kurang gizi, keterbatasan akses untuk maju dan berkembang. Lagi-lagi nasibnya tak jauh berbeda dengan orang tuanya, untuk mendapatkan sesikit uang saja mereka harus bekerja keras banting tulang peras keringat dari pagi sampai sore. Demikian siklus hidup mereka seakan tidak pernah berubah.


Yang borju semakin borjuis, sedangkan yg proletar tetaplah proletar. Ada kesenjangan yg sangat jauh antara si wanita karir dengan wanita yg menjadi pembantu-pembantunya. Padahal mereka masih sama-sama wanitanya, sama-sama memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri, lepas dari ‘perbudakan’ orang lain sebagaimana yg selama ini digaungkan oleh para pengasung feminisme dan kesetaraan gender. Bisa jadi orang lain akan berkata bahwa itulah seleksi alam, tidak setiap orang berhasil dalam meraih cita-citanya, jadi terima saja itu. Ia benar, namun ia terlupa pada 1 hal: bahwa hukum alam akan senantiasa mencari keseimbangan barunya, harus ada yg di atas dan harus ada pula yg di bawah, tak peduli sekeras apapun usaha para pengasong feminisme, kesetaraan gender dan pemikiran lainnya dalam usahanya mewujudkan utopianya: sebuah tatanan masyarakat yg terdiri dari manusia dengan derajat yg sama, memiliki hak dan kewajiban yg sama, bebas dan lepas dari penindasan manusia lainnya. Itu kalo kita berbicara dengan sudut pandang humanisme. Gimana klo kita berbicara dr sudut pandang islam? Emang dari awal pemikiran mereka udah rapuh koq, akal mereka saja sudah terlalu sempit untuk memahami fitrah manusia – dalam hal ini peranan seorang wanita – sehingga ketika mereka berusaha untuk mengubahnya, yang ada hanyalah terjadinya kerusakan dimana-mana.

Abdul Hakim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: