Rumah yang Tertutup Terus

Mba, Rumahnya kok tutupan terus sih?
Pernah ga dapat komentar kayak begitu? Saya pernah.

Mau tau kenapa rumah kami selalu ditutup pintunya?

👉Pertama , Setiap hari yang dirumah hanyalah istri dan anak. Suami bekerja pergi pagi pulang sore. Pintu rumah selalu ditutup karena di dalam rumah saya cuma memakai baju rumahan, baju daster, atau rok/celana pendek selutut.

Masa’ sih kita harus memakai jilbab cadar dan kaus kaki sepanjang hari ? Kalo saya sih gak mau, wong dirumah sendiri kok dibikin repot?

👉Kedua, sebagai istri kita tidak diperbolehkan menerima tamu laki laki saat suami tidak dirumah.
Jika pintu rumah selalu terbuka, maka siapa saja yang hendak bertamu kerumah bisa dengan bebas ‘ujug ujug’ di depan pintu, tinggal melangkahkan kaki dan masuk rumah. Belum lagi jika ada orang yang memiliki niat jahat, maka akan sangat mudah melakukan niat jahatnya bila pintu selalu terbuka.

👉Ketiga, pintu selalu dikunci dari dalam. Agar ketika ada tamu siapapun itu, mau kerabat, tetangga, atau teman yang mungkin memiliki hubungan dekat tidak langsung nyelonong masuk, ketika memanggil atau sudah mengucapkan salam.

Namanya dirumah sendiri, bisa saja kita sedang dalam keadaan aurat terbuka. Dengan pintu yang tertutup dan dikunci, maka kita bisa mempersiapkan diri atau menutupi aib yang tidak boleh diketahui orang lain, meski pun (teman sesama wanita,kerabat wanita) yg datang ke rmh.

🌷Jadi, itulah sebabnya mengapa pintu rumah saya selalu tertutup.

(Tulisan seseorang yang semoga Allah menjaganya)

Ridha dengan Pembagian Allah

Ada yang tinggi sekolahnya, tidak kaya raya.
Tapi ada yang tak sampai SMA, justru sekarang horang kaya.
Ada yang dulu anak pandai, sekarang pegawai biasa.
Tapi yang dulu kurang pandai, sekarang bos pertamina.
Ada yang dulu supel, gaul luar biasa, sekarang bukan siapa-siapa.
Tapi yang dulu kalem ngga ada gaya, sekarang dikenal dimana-mana.
Ada yang jago marketing dan seminar dimana-mana, usaha ngga jaya-jaya.
Tapi ada yang biasa-biasa aja, ternyata usaha moncer tidak terkira.
Ada juga yang anak orang kaya, ya sekarang tetep kaya raya.
Ada juga yang miskin papa, ya sekarang tetep gitu-gitu aja.
Ngga usah pusing dan ruwet memikirkannya.
Karena itulah pembagian dari Allah ta’ala.
Allah luaskan siapa yang sebagian, Allah sempitkan sebagian.
Ucapkan saja, “Alhamdulillah cukup”, kau pasti bahagia.
Nabi kita bersabda:
وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ
“Ridha-lah dengan pembagian Allah, engkau akan menjadi manusia yang paling kaya” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani).
Toh semua itu hanya sementara.
Cuma amal shalih dibawa ke alam selanjutnya.
Kaya raya atau miskin papa, orang biasa atau seleb dunia maya.
Tetap beramal shalih sampai ajal menyapa.
Join channel telegram @fawaid_kangaswad

(Ust Yulian Purnama)

“Nglaruhi”

[Bismillah]

Seorang istri jangan gemar “nglaruhi” apa yang dilakukan suami.

(“Nglaruhi” adalah istilah Jawa yang mengandung makna menegur yang bercampur dengan unsur protes, marah, dan ikut campur).

Jangan suami apa dikit dilaruhi, apa dikit dilaruhi. Suami pulang terlambat dilaruhi, main ke rumah teman dilaruhi, beli apa dilaruhi, makan dimana dilaruhi, segala macam polah suami dilaruhi.

Istri yang hobi nglaruhi suami, diakui atau tidak, merupakan salah satu sebab terbesar seringnya timbul percekcokan serta iklim rumahtangga yang tidak harmonis. Apalagi jika suami tidak punya “self control” yang baik, kemudian membalas laruhan istri dengan kemarahan. Pecah!

Sadarilah, aspek fithrah, ditambah posisinya sebagai qowwam keluarga, menjadikan laki-laki tidak suka dilaruh-laruhi oleh istri, tidak mau diatur-atur, serba terkekang, mau berbuat ini itu serba terbatas, menjadikan jiwanya tidak nyaman, hingga bisa merusak “mood” kepemimpinannya. Jika sudah sampai di titik ini, entahlah, keluarga yang bagaimana yang hendak diperjuangkan dunia akhirat.

Biarkanlah suami melakukan apa saja yang dia mau. Selama bukan perkara dosa dan maksiat, selama tugas dan tanggungjawab lahir batin terhadap istri & anak telah tertunaikan dengan baik, selama tidak memadharatkan kehidupan berkeluarga; biarkanlah dia dengan apa yang dia inginkan. Dia mau futsal sama temannya, oke. Dia mau beli baju baru, monggo. Dia mau wisata keluar kota, silahkan. Dia mau nongkrong sama kawan-kawannya, nggak masalah. Di hari libur kerja dia lagi pengen tidur tiduran saja di rumah, boleh.

Yakinlah, istri yang tidak suka nglaruhi suami, akan menjadikan suaminya nyaman menjalani hidup bersamanya. Hati menjadi tenang. Keluargapun terasa bahagia dan harmonis, biidznillah.

Bagi suami pemilik istri yang nggak suka nglaruhi, banyak banyaklah bersyukur; itu adalah salah satu modal besar kebahagiaan dalam hidup Anda. Jaga dan cintailah selalu. 😊

Barakallahu fiikum. 🤝

Ustadz Ammi Ahmad

Tentang Al Wala’ wal Bara’

Ketika belajar manhaj dengan baik maka kita akan belajar Aqidah Al Wala’ dan Al Baro’.

Apa itu Al Wala’ ? Al Wala’ adalah cinta dan diberikan Wala’ (loyalitas) hanya kepada orang Islam atau Muslim

Tentu Wala’ diberikan sesuai dengan kadar keimanan yang nampak dari seorang muslim.

ini penting dipahami karena betapapun jeleknya seorang muslim maka dia tetap memiliki hak untuk diberikan cinta dan loyalitas

Jika dipahami dengan baik tentang Al Wala’ maka seorang muslim akan sangat berhati-hati dari ghibah, menjatuhkan kehormatan apalagi sampai menumpahkan darah seorang muslim.

Apa itu Al Baro’ ? Al Baro’ adalah benci dan berpaling (Baro’) dari orang-orang musyrik dan kafir.

Karenanya, tidak ada yang bisa memahami Aqidah Al Wala’ dan Al Baro’ dengan baik kecuali mereka yang belajar manhaj.

Kenapa harus belajar manhaj ? Jawabannya karena banyak yang menerapkan Al Wala’ hanya sebatas kelompok, partai, suku ataupun bangsa. Dan melakukan Baro’ kepada mereka yang diluar kelompok, suku, partai dan bangsa. Semua itu karena sebab tidak belajar manhaj dengan baik.

Ustadz La Ode Abu Hanifa

Silogisme Abu Murrah (dan Mu’tazilah)

Silogisme Abu Murrah, logika ilmu menalar yang diwariskannya kepada aqlaniyyun … -ia menyuguhkan premis-premis rasio di hadapan wahyu, yakni mengemukakan qiyas di hadapan keberadaan dalil. Adapun natijahnya adalah sebagaimana yang kita tahu, ia tak sujud kepada Adam …


ibn al-Qayyim -rahimahullah- berkata:

Sesungguhnya menentang wahyu dengan akal merupakan warisan Syaikh Abu Murrah (yakni Iblis). Abu Murrah makhluk pertama yang menentang dalil wahyu dengan akal seraya mengedepankan akal dari wahyu. Sesungguhnya tatkala Allah -subhanhu- memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam, Abu Murrah pun menentang perintah-Nya dengan menggunakan qiyas aqli (silogisme akal) yang tersusun dari dua premis hamliyah (premis-premis yang mengandung natijah secara implisit). Salah satu premis Abu Murrah adalah ucapan, ” Aku lebih baik daripada Adam,” dan ini merupakan premis pertama. Adapun premisnya yang kedua dibuang (yakni tak disebutkan), sedangkan takdirnya adalah, “Fadhil (yang utama) itu tidak sujud kepada mafdhul (yang kurang utama).” -Ibn al-Qayyim, Hujjah Iblis …

-HW ibn Tato WW-

Buka Kedok Saja Sekalian

Memang ada baiknya yang memusuhi salafi dan para ulamanya ini buka kedok sekalian daripada terlalu lama bermuka dua.

Kalau menguntungkan pemikiran haraki-nya saja, fatwa ulama salafi dicomot dan dikesankan seolah mereka ini salafi karena mengambil fatwa dari mereka.

Sedangkan ketika fatwa ulama tidak menguntungkannya, mereka tidak berani menyerang para ulama tersebut, tapi yang diserang para da’i di bawah mereka yang mengawal fatwa para ulama tsb.

Contoh paling mudah adalah tentang status waliyyul amri di negara yang berhukum dengan undang-undang buatan. Syaikh Ibn Baz, Syaikh Ibn ‘Utsaimin, Syaikh Al Fauzan, Syaikh Ibrahim Ar Ruhailiy, dll mereka dengan jelas mengatakan bahwa penguasa muslim semacam itu adalah ulil amri yang wajib ditaati dalam perkara ma’ruf.

Beranikah orang-orang itu secara langsung mengejek para ulama tsb dengan ejekan “bodoh”, “tolol”, “tidak paham soal ini..”, “kokohiyyun”, “cebong”, dan segala bentuk perendahan lainnya? Yakinlah, tidak akan berani. Beraninya ya sama kita-kita ini yang selevel.

Masih lebih gentle mereka yang asli orang partai dan harokah yang tidak bermuka dua. Mereka menyebut salafi dengan sebutan salafi, bukan kokohiyyun atau yang lainnya karena mereka memang menempatkan diri di luar salafi.
Sesekali nyetatus rada gahar dikit.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Jauhnya Mim dan Nun

Tinggalkan larik-larik huruf dalam syair Mimiyah si pemilik burdah dari kota Bushir. Sungguh ia telah menggubah rima kemusyrikan lewat seratus-enam-puluh bait qafiyah mim. Meski begitu dekat kedudukan huruf mim dari nun pada baris hijaiyah, namun jarak kehinaan Mimiyah lelaki Bushiri itu begitu jauh dari faidah Nuniyah putra al-Qayyim di madrasah Jauziyah …

-HW ibn Tato WW-

Muridmu Sedang Merengat Keringat Memerah Darah!

Janganlah Anda menjadi orang terdepan bicara saat situasi masyarakat masih aman, namun ketika keadaan sudah memanas, tetibanya Anda tak terdengar lagi hingga hembusan nafas pun. Sebagian bercokol di luar negeri saat itu, sebagian menjadi hantu.

Ingatlah bahwa boleh jadi jemari kita menanam saham untuk pertumpahan darah.

Kenalilah keadaan sebenarnya. Kita menghunus pedang melalui ketikan. Kita mengambil anak panah di mimbar-mimbar. Tapi yang menjadi korban adalah para pembaca dan hadirin. Yang ‘memperjuangkan’ kilatan pedang dan desingan anak panah Anda adalah para pemuda yang seharusnya lebih fokus belajar dan beramal.

Saat sebagian darah mereka tumpah, Anda boleh tetibanya membisu; sambil masih mencari siapa kambing hitam. Tapi ALLAH TIDAK LALAI.

Allah tidak akan lalai akan kezaliman manusia, berkuasa atau tidak.

Sekalipun seseorang rajin shalatnya bahkan menjadi imam sekalipun, jika kemudian menanam saham pertumpahan darah, maka ingatlah dan ingatlah hadits berikut:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ، وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

“Perkara yang pertama kali dihisab adalah shalat. Sedangkan yang diputuskan pertama kali di antara manusia adalah (yang berkaitan dengan) darah.” [H.R. An-Nasa’i]

Sekiranya saat ini anak Anda berlumuran darah memperjuangkan sesuatu yang dia sendiri tidak memahami dengan baik -bahkan kehidupan pun belum dia mengerti-, maka sudikah menobatkannya sebagai pejuang dan pahlawan?! Sementara di Akhirat, pertanyaan demi pertanyaan akan menjurus kepada Anda, wahai penanam saham?!

Bukankah para orator mimbar, baik bersorban, berpeci, berbaju koko dan bersarung itu tidak tampak di medan saat darah tertumpah?

Bukankah mereka justru hidup lebih tenang, dengan suguhan kopi atau teh istri, atau murid, atau panitia kajian; dan urusan ekonomi ada yang mengamankan?!

Penulis bukanlah individu yang tidak mengerti posisi bapak-bapak penceramah agama, yang tinggal di kota-kota besar. Penulis sangat mengerti betapa sejuknya tinggal di kota besar yang kian hari kian panas.

Sehingga, disarankan jangan berpura-pura. Disarankan ubah haluan pemikiran. Tenangkan umat dengan jari dan lisanmu. Istighfar. Setiap saham dan investasi ada laba jahatnya. Jika laba bersihnya adalah darah pemuda kita di masa tutup buku, kira-kira jawaban apa yang Anda akan manipulasikan di hadapan Allah Ta’ala kelak?!

Sementara Anda lebih banyak meneliti koran dibandingkan al-Qur’an.

Berpura-puralah, jika sejak lama memang rasa malumu sudah terkubur sebelum jasadmu.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Pengetahuan yang Disesali dan Diuntungi

Ada banyak pengetahuan yang Anda bisa saja menyesal mengetahuinya dan kelak berharap seandainya tidak mengetahuinya maka hati lebih tenang dan lisan lebih terjaga.
Ada banyak pengetahuan yang Anda takkan menyesal mengetahuinya dan berharap semakin tahu dan tahu.

Pengetahuan pertama adalah aib pribadi orang lain.
Pengetahuan kedua adalah ilmu agama sesuai dengan pemahaman salaf.

Maka, orang yang makin banyak tahu aib orang lain adalah yang paling banyak sesalan. Sementara, orang yang makin faham agama Allah dan mengamalknnya adalah yang kian beruntung.

Ustadz Hasan Al Jaizy

Nasihat Syaikhul Islam Kepada Para Suami

Cintailah istrimu sewajarnya, jangan terlalu sering mengucapkan kata-kata
romantis terhadapnya apalagi jika sampai mengatakan bahwa istrinya tak tergantikan, karena yang demikian hanya akan membelengukan hati sehingga hatipun tertawan kepada istri, akhirnya istrinya benar-benar menguasainya, mengaturnya sedemikian rupa, dan ia menjadi budak sang istri. ‘iyaadzan billah

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahmatullah ‘alaihi berujar :

فالرجل إذا تعلق قلبه بامرأة ولو كانت مباحة له يبقى قلبه أسيرا لها

“Seorang pria apabila hatinya telah tertambat pada seorang wanita walaupun wanita tersebut adalah halal baginya (istinya-pent), maka jadilah hatinya tertawan oleh wanita tersebut”

Asy-syaikh Shalih Al-Fauzan mengomentari mengapa ia menjadi tawanan bagi istrinya tadi :

يلتمس رضاها و يجتنب ما يسخطها, و في ذلك له و عبودية لها بحيث ” تحكم فيه و تتصرف يما تريد

“Sang suami akan terus menggapai keridhaan istrinya serta berupaya menjauhi apa yang akan membuat istrinya marah. Maka sikap demikian adalah kehinaan bagi sang suami, dan juga bentuk peribadatan kepada istrinya, dimana sang istri akan menguasai dan mengatur suami sesuai dengan apa yang ia inginkan”

Ibnu Taimiyah melanjutkan,

تحكم و تتصرف بما تريد، و هو في الظاهر سيدها لأنه زوجها

“Maka sang istri akan menguasainya serta mengatur sang suami sesuai dengan apa yang ia kehendaki, padahal secara lahiriah ia adalah tuan dari wanita tersebut karena ia adalah suaminya”

Syaikh Al-Fauzan menjelaskan makna diatas :

لكنه في الباطن عبد لها، لأنه متعلق قلبه بها، يراقب طاعتها وما تريد و يحذر من إغضابها

“Namun hakikatnya sang suami adalah budak istrinya, karena hatinya bertumpu kepadanya. Ia senantiasa mengawasi dirinya untuk tetap taat kepada istrinya dan kepada apa yang diinginkan istrinya, serta berhati-hati dari hal-hal yang akan membuat istrinya marah”

Padahal Nabi Yusuf ‘alaihis Salam pernah berdoa kepada Allah, sebagaimana firman-Nya :

وإلا تصرف عني كيدهن أصب إليهن و أكن من الجاهلين

“Dan Jika Engkau tidak memalingkan aku dari tipu daya mereka (wanita yang menggoda Yusuf-pent) maka aku akan cenderung untuk memenuhi keinginan mereka dan tentu aku termasuk orang-orang yang bodoh”

Maknanya adalah : Aku condong kepada mereka dan mencari keridhaan mereka.

Syaikhul Islam kembali berujar :

في الحقيقة هو أسيرها و مملوكها لا سيما إذا درت بفقره إليها، و عشقه لها

“Akan tetapi hakikatnya suami tersebut adalah tawanan dan budak istrinya, apalagi jika istrinya mengetahui bahwa suaminya sangat membutuhkan dan merindukannya”

Syaikh Al-Fauzan kembali menjelaskan :

فإنها تتسلط عليه إذا علمت أنه يطمع فيها و أنه يحبها، فينبغي له ألا يظهر لها ذلك

“Apabila sang istri mengetahui bahwa suaminya sangat mendambakan dan mencintai istrinya, maka istrinya akan menguasainya. Oleh karena itu sudah sepatutnya bagi sang suami untuk tidak (terlalu sering) menampakkan kecintaanya kepada istrinya”

Tertawannya qalbu, lebih mengerikan daripada tertawannya badan. Diperbudaknya qalbu, lebih dahsyat dan mengerikan daripada diperbudaknya badan. Tertawannya badan hanya terbelenggu oleh besi atau tali, akan tetapi tertawannya qalbu terbelenggu oleh cinta dan ini jauh lebih mengerikan daripada besi dan tali sekalipun.

Tidakkah anda mengingat firman Allah Ta’ala :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal).”
[Al-Baqarah: 165]

Dirangkum oleh seorang suami dari kitab Syarh Al-‘Ubudiyyah

Blog at WordPress.com.

Up ↑