Tentang Ketaatan Kepada Pemimpin

Coba kita ingat lagi, kenapa dalam Islam kita diwajibkan mengangkat pemimpin? Tidak lain untuk mengatur urusan kita. Karena kalau tidak ada yang mengatur, akan kacau semua urusan..

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:

ويقال: ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان، والتجربة تبين ذلك

“Dikatakan bahwa 60 tahun di bawah pemimpin zhalim lebih baik daripada satu malam tanpa penguasa. Pengalaman telah membuktikan hal tersebut..”

Dan kenapa kalau mereka mengatur kita, harus kita kompak taati? Karena fungsi pengaturan itu akan maksimal kalau semua taat. Kalau ada yang tidak taat, ya jadinya tidak maksimal bahkan gagal.

Contoh: Lampu lalu lintas di perempatan. Kalau semua taat dan tertib kecuali satu orang saja yang melanggar, maka yang rugi banyak orang kalau terjadi tabrakan.

Begitu pula ketika pemerintah membuat aturan pembatasan jaga jarak (termasuk untuk shaf), maksimum keterisian ruangan, pemakaian masker, vaksinasi, dan lain-lain, itu maslahatnya adalah maslahat komunal alias bersama-sama. Kepatuhan Anda mempengaruhi keselamatan orang lain.

Sebagai yang mengaku ahlus sunnah yang taat pemerintah dalam perkara ma’ruf, sekarang Anda diuji.

Kalau Anda katakan bahwa perintah dari penguasa ini adalah maksiat yang tidak boleh diikuti, dan bukan perkara ijtihadiyah, ya monggo. Kami angkat tangan..

Tapi kalau Anda menganggap ini ijtihadiyah, maka Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa perintah penguasa dalam masalah ijtihadiyah ada dua macam:

  1. Jika terkait dengan urusan ibadah pribadi, misalkan diminta untuk puasa sebelum shalat istisqa (ini pendapat madzhab Syafi’i dan Hanafi), yang menurut kita ini tidak disyariatkan, maka boleh tidak taat. Namun tidak perlu mengumumkan sikap pribadinya ini, karena itu sebuah kesalahan. Cukup diamalkan sendiri
  2. Jika terkait urusan umum, untuk tanzhimul ummah (membuat tatanan bagi rakyat agar teratur), maka inilah yang kita diwajibkan untut taat.

Source: https://www.youtube.com/watch?v=0ZTimhmdO5I

Semoga bermanfaat dan dapat dipahami.

Ust Ristiyan Ragil Putradianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: