Logical Fallacy – Anecdotal

Fallacy #3: Anecdotal
Anda lebih memilih menggunakan pengalaman pribadi atau contoh yang sifatnya tertutup, daripada mengemukakan argumen yang valid.

Sering sekali orang lebih mudah percaya pada testimoni seseorang daripada data penelitian yang terkesan lebih kompleks. Testimoni ini tentu saja dimaksudkan untuk menggiring orang kepada opini tertentu sesuai moral cerita.

Contoh:

  1. “Kakek saya merokok sejak remaja sampai sekarang, sehingga sudah lebih dari 40 tahun beliau merokok namun sampai hari ini sehat-sehat saja. Makanya jangan terlalu percaya dengan apa yang Anda baca mengenai bahaya rokok”
  2. “Di daerah kami ada sekelompok orang yang berjenggot dan berjidat hitam, terlihat seperti orang yang alim namun ternyata mereka tidak bisa membaca Al Fatihah dengan benar”
  3. “Saya pernah bertemu dengan seorang tokoh salafi, setelah kami berbicara panjang lebar, saya menangkap bahwa ternyata dia memang suka mengkafirkan orang yang tidak sepaham”

Pada contoh pertama, ia ingin menggiring orang kepada opini bahwa merokok itu tidak selalu berbahaya.

Pada contoh kedua, ia ingin menggiring pada opini bahwa ternyata orang yang berjenggot dan berjidat hitam itu seringkali hanya penampilan luar saja.

Pada contoh ketiga, ia ingin menggiring orang pada pemahaman bahwa yang namanya salafi memang benar tukang mengkafirkan orang lain.

Ustadz Ristiyan Ragil Putradianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: