Kubur Manusia dan Mu’tazilah FE

Kubur manusia kurang lebih seluas 60 cm x 200 cm. Akan tetapi ketika seorang hamba yang beriman telah masuk dalam kuburnya dan ia mampu mengatasi ujian saat dua malaikat memberikan pertanyaan kepadanya; akan diluaskan kuburnya sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ. قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ. ….

“(Penyeru berkata) : ‘Maka gelarkanlah hamparan dari surga, dandanilah ia dengan pakaian dari surga. Bukakanlah baginya sebuah pintu ke surga”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan : “Maka sampailah kepadanya bau wangi dan keindahannya. DILAPANGKANLAH KUBURNYA SEJAUH MATA MEMANDANG…..” [Diriwayatkan oleh Ahmad].

Apakah jika kita gali kuburnya akan kita dapati kuburnya seluas lapangan bola ?. Tidak. Bertambah 1 meter pun tidak, tetap sama. Artinya apa ? Alam barzakh dalam kubur tidak sama realitanya dengan yang diindera manusia di dunia. Alam barzakh adalah ghaib.

Orang rasionalis – atau Mu’tazilah di era lama – menolak hadits di atas karena mereka anggap tidak sesuai dengan yang diindera oleh akal mereka. Cara ini diadopsi oleh FE-eers saat memahami Jahannam sebagaimana dalam screenshot ini. Meskipun dalam konteks menolak teori GE, tapi konstruksi pemahaman nash mereka dibangun atas dasar keharusan masuk dalam ranah inderawi. GE dianggap keliru karena – menurut mereka – neraka berada di bawah lapis bumi paling bawah, sedangkan diameter bumi hanya 5.000 km. Konsekuensinya, neraka berdiameter tak lebih dari 5.000 km. Kesimpulannya kata mereka sekali lagi, GE keliru. Agar nash bisa dipahami secara inderawi, bumi mesti datar sehingga Jahannam muat di dalamnya.

Semakin Anda menjadi FE, semakin Anda menjadi Mu’tazilah. Rasionalis.

Btw,…. teori FE sebenarnya telah finish, selesai, game over berabad-abad lalu melalui ijmaa’ pemahaman nash yang ditetapkan para ulama. Usaha penggagalan ijmaa’ oleh FE-eers melalui penyebutan sebagian kecil pendapat ulama yang bertentangan dengan ijmaa’ kandas sebagaimana telah saya jelaskan dalam komentar di status saya sebelumnya. So, pemahaman apapun terhadap nash yang dibangun di atas pelanggaran ijmaa’, PASTI salah.

Ustadz Dony Arif Wibowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: