Ketaatan Kepada Pemimpin

Ada yang bilang katanya pemimpin (Presiden) kita yg sekarang itu bukanlah Ulil amri, karena tidak berhukum dengan hukum agama secara totalitas ..

Baik, coba antum baca yg difirmankan Allah ta’ala berikut ini,

يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم ..

“Wahai orang² beriman ta’atilah Allah, ta’atilah Rasul dan ulil amri dari kalangan kalian”.
(QS. An Nisa’ : 59)

Lihat, Allah hanya menyebutkan “wa ulil amri minkum/ ulil amri dari golongan kalian”. Sekarang kita tanya: presiden kita muslim apa kafir? Jawabnya; beliau Muslim dan beliau masih shalat, ya sudah (selesai masalah) berarti dia adalah ulil amri kita .. karena ayatnya berbunyi : wa ulil amri minkum/ ulil amr dr kalangan kalian, jadi, selama dia masih muslim maka dia adalah ulil amri kita, karena ia bagian dr kita (kaum muslimin).
Kata “athii’uu/taatlah kalian” ditaruh didepan nama “Allah” dan didepan kata “ar Rasul”, tapi tidak diulang ketika hendak menyebut kata “ulil amri”, hikmahnya: Allah dzat yg maha tahu mengetahui bahwa ulil amri bisa jadi perintahnya menyelisihi petunjuk Allah dan Rasul, oleh karenanya ulil amri tidak ditaati sepihak, ketaatan pada Ulil amri mengikuti ketaatan pada Allah dan Rasul, jika ulil amri memerintahkan sesuatu yg bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul, maka perintahnya tidak boleh ditaati.

Tersisa masalah kedua, lalu bagaimana jika dia tidak berhukum dengan hukum Islam secara totalitas, atau seperti yg disebutkan diatas misalnya, ulil amri memerintahkan kita dengan sesuatu yg menyelisihi petunjuk Allah dan Rasul, Apakah label umri lantas hilang dari dirinya sehingga ia berhak untuk kita lengserkan? Jawabnya simak hadits² Nabi ﷺ berikut ini:

Hadits pertama:

يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس قال: قلت: كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك، قال: تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع

“Akan ada disetelahku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak beramal dengan sunnahku, dan akan tegak diantara mereka orang² yang hatinya adalah hati syetan dalam jasad manusia.”Aku bertanya, “apa yang akan aku lakukan wahai Rasulullah jika aku menemukan yang demikian.” Beliau menjawab: ”engkau mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka dengar dan taatlah.”
(HR. Muslim)

Lihat, kata Nabi ﷺ “aimmatun laa yahtaduuna bihuday walaa yastannuuna bisunnatiy/ para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak beramal dengan sunnahku” lafadznya tegas dan terang, yakni para pemimpin yg tidak berhukum dengan hukum Islam secara totalitas karena kata Nabi “tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak beramal dengan sunnahku”, bahkan Nabi mengatakan “akan tegak diantara pr pemimpin tersebut orang² yang hatinya adalah hati syetan dalam jasad manusia”, itu artinya; “para pemimpin tersebut dikelilingi oleh orang² yg berhati jelek”, lalu apakah label ulil amri terlepas begitu saja dr mereka? Simak apa jawaban Nabi ketika sahabat menanyakan apa yg harus ia perbuat jika menemui pemimpin² yg seperti itu.. beliau ﷺ bersabda: “tasma’u watuthi’u lil AMIR/ engkau mendengar dan taatlah kepada Amir (lihat, Nabi masih menyebut pemimpin tersebut sebagai Amir) walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka (kata Nabi) dengarlah dan taatlah.”

Hadits kedua:

إنه يستعمل عليكم أمراء فتعرفون وتنكرون فمن كره فقد برئ ومن أنكر فقد سلم ولكن من رضي وتابع قالوا يا رسول الله ألا نقاتلهم قال لا ما صلوا أي من كره بقلبه وأنكر بقلبه

”Akan diangkat para penguasa untuk kalian. Lalu engkau mengenalinya dan kemudian engkau mengingkarinya (karena ia telah berbuat maksiat dan penyimpangan² dalam agama). Barangsiapa yang benci, maka ia telah berlepas tangan. Barangsiapa yang mengingkarinya, sungguh ia telah selamat. Akan tetapi, lain halnya dengan orang yang ridha dan patuh terhadap pemimpin tersebut (dalam perbuatan maksiatnya)”. Para shahabat bertanya : ”Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memeranginya ?”. Beliau menjawab : ”Tidak, selama mereka masih mengerjakan shalat, yakni barangsiapa yang membenci maka bencilah dengan hatinya dan mengingkari maka ingkarilah dengan hatinya”.
(HR. Muslim)

Lihat, sekalipun pemimpin tersebut melakukan perkara² yg mungkar, kita tetap diperintah untuk mendengar dan ta’at kepadanya, maksiat yg ia lakukan tidak lantas membuat label ulil amri terlepas dari dirinya.

Allaahu a’lam
Semoga bermanfaat

Faishal Abu Ibrahim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: