Kemiripan Antara Ajaran Ahlul Kitab dan Islam Tidak Mesti Selalu Diselisihi

Ada kemiripan antara ajaran ahlul kitāb dan ajaran Islām tidak bermakna mesti dan harus selalu diselisihi. Kita menyelisihi pada apa yang dalam syarī’at ini diperintahkan untuk menyelisihi. Dan agama ini agama dalīl bukan agama akal yang jika begini dalam satu hal, lalu dipukul rata dalam semua hal juga harus demikian.


Misal:
Ahlul kitāb jenggotan dan Muslim jenggotan tidak bermakna jenggot itu menjadi salah dalam agama ini. Atau ketika ahlul kitāb datang kepada nabi yang menceritakan dalam kitāb mereka ada syarī’āt terkait hukum rajam bagi zina muhshan dan dalam ajaran Islām juga ada syarī’āt rajam bagi zina muhshan, atau ketika ada diantara ahlul kitāb meyakini Allāh di langit dan Islām juga menetapkan Allāh di langit, atau wanita ahlul kitāb berhijāb hitam rapat sesuai syarī’āt dan di dalam Islām juga demikian, maka tidak bermakna kita harus menyelisihi mereka.
Karena agama ini menyempurnakan agama-agama sebelumnya, dan memperbaiki apa-apa yang sudah dirubah-rubah oleh ajaran agama sebelumnya dan dalīl yang menjadi landasannya.


Sehingga, apa saja yang Allāh dan nabi tetapkan dalam syarī’āt ini sama dengan agama sebelumnya maka kita tetapkan sama, dan apa yang Allāh dan rasūlnya mansukhkan (hapuskan) dari agama sebelumnya pada agama ini maka kita menyelisihi mereka karena sudah mansūkh.


Maka fahami kaidah-kaidah beragama agar tidak salah memahami.


Salah memahami jadi tersesat jalan seperti ucapan doktor fulān yang melarang qaum muslimīn berjenggot katanya karena mengikuti ahlul kitāb. Inilah ketidak faqihannya dalam beragama.


Belajarlah manhaj yang benar agar benar memahami agama, jangan belajar lintas manhaj karena akan merubah cara memahami agama.
Belajar lintas madzhab dari 4 madzhab silakan saja, tapi kepada satu manhaj bukan lintas manhaj.

Hanafi Abu Abdillah Ahmad

Hadiah Al Fatihah untuk Orang Sakit?

Hal ini karena tidak ditemukannya dalil dari Al-Qur’an maupun hadis yang melegalkan tindakan tersebut. Mengingat ini perkara ibadah, maka tidak adanya dalil, adalah dalil tidak legalnya menghadiahkan pahala bacaan kepada orang lain. Baik untuk orang sakit atau yang lainnya.
Syekh Abdulaziz Ibnu Baz -rahimahullah- menerangkan,

لم يرد في كتابه العزيز ولا في السنة المطهرة عن الرسول عليه الصلاة والسلام ولا عن أصحابه رضي الله عنهم ما يدل على الإهداء بقراءة القرآن لا للوالدين ولا لغيرهما، وإنما شرع الله قراءة القرآن للانتفاع به والاستفادة منه وتدبر معانيه والعمل بذلك

“Tidak ada dalil dari Al-Qur’an yang mulia, maupun sunah yang suci dari Rasul ﷺ, tidak juga riwayat dari para sahabat -semoga Allah meredhoi mereka- yang menunjukkan legalnya menghadiahkan pahala bacaan Qur’an untuk kedua orangtua atau yang lainnya. Allah memerintahkan membaca Al-Qur’an untuk diambil manfaat (melalui ruqyah misalnya, -pent), dipelajari, ditadaburi maknanya serta diamalkan..”

(Rekaman fatwa beliau bisa disimak di :
https://binbaz.org.sa/…/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%87…)


Meskipun para ulama berbeda pendapat berkenaan hukum menghadiahkan pahala kepada orang lain; termasuk dalam hal ini menghadiahkan pahala bacaan Qur’an kepada orang lain. Namun, pendapat yang tampaknya mendekati kebenaran dalam hal ini, adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Syafi’i dan Imam Malik -rahimahumallah-, bahwa pahala tidak bisa dihadiahkan kepada orang lain, kecuali yang dijelaskan oleh dalil, seperti sedekah, haji / umrah dan doa. (Lihat : Az-Ziyadatu wal Ihsan fi ‘Ulumil Qur’an 2/315)


konsultasisyariah.com

Soal Pilihan Ganda

SOAL PILIHAN GANDA
➖➖➖➖➖➖➖➖
Pilihlah salah satu jawaban yang Benar.

Jodoh, Rezki dan Ajal Sudah di Atur oleh Yang…??

A. Diatas
B. Dimana Mana
C. Di Hati Manusia
D. Tidak di Atas, Dibawah, Dikiri, ataupun diKanan
E. Di Urat Nadi

JAWABANNYA..:✅
➖➖➖➖➖
Secara fitrah manusia mengakui bahwa Allah berada di atas langit. Misalnya manusia akan mengatakan:

“Jodoh telah diatur oleh Yang di atas”

“Saya lakukan ini ikhlas kepada Allah” (terkadang tangan/jari menunjuk ke atas)

Tentu TIDAK kita katakan:
“Jodoh telah diatur oleh yang di mana-mana”

“Jodoh telah diatur oleh yang tidak bertempat dan tidak berposisi”

Terdapat hadits yang menyiratkan bahwa memang jodoh telah diatur oleh YANG DI ATAS LANGIT.

Hadits dari salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab binti Jahsy yang berbangga sekali karena ia dinikahkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Allah yang berada di atas langit.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

“Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab binti Jahsy:

‘Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), maka Kami nikahkan engkau dengannya ’
(QS. Al-Ahzab: 37)”.

Anas berkata :
“Zainab membanggakan dirinya atas istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lain, ia berkata:
‘Yang menikahkan kalian (dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah keluarga-keluarga kalian, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah yang berada DI ATAS TUJUH LANGIT.”
(HR. Tirmidzi)

Saudaraku yang semoga disayangi oleh Allah, salah satu aqidah ahlus sunnah adalah meyakini bahwa Allah berada di atas langit

Silahkan baca beberapa tulisan kami dengan dalil-dalil Al-Quran dan hadits serta perkataan para ulama:

1.https://muslim.or.id/35494-menjawab-pertanyaan-di-manakah-allah.html

2.https://muslimafiyah.com/semutpun-mengakui-allah-ada-di-atas-langit-arsy.html
.
3.https://muslim.or.id/36086-firaun-mendustakan-allah-berada-di-atas-langit.html

4.https://muslim.or.id/36103-makna-ayat-kami-lebih-dekat-dari-urat-lehernya.html

SELENGKAPNYA :
https://muslimafiyah.com/jodoh-telah-diatur-oleh-yang-di-atas.html

By @anggaazzahra
Semoga bermanfaat, barokallahufiykum,,!!

Jin Nasab (Part 9 – selesai)

Part 9 – Selesai

Sudah beberapa lama semenjak saya tulis Part 8. Akhirnya, saya tuliskan Part 9 ini sekaligus sebagai part penutup seri cerita ini.

Bersyukur kepada Allah ta’ala, setelah saya tulis cerita pada Part 8 sudah tidak ada lagi gangguan yang terjadi setelahnya. Namun, untuk mengantisipasi masalah psikologis anak-anak, saya membawa mereka ke psikiater. Alhamdulillah, dokter bilang anak-anak kami sehat-sehat.

Dokter menyarankan untuk mengganti seluruh tema perbincangan di rumah. “No more” cerita-cerita tentang jin. Kami disarankan untuk membuat topik dan suasana baru. Tujuannya agar anak tidak trauma.

Saya pun inisiatif untuk mengajak anak-anak liburan ke Bandung, lalu pulang kampung ke Bekasi (rumah saya), dan Kebumen (rumah istri). Saat pulang ke Bekasi dan Kebumen, saya sampaikan kepada keluarga untuk jangan bertanya-tanya tentang gangguan jin dan semisal. Anggap semua sudah ‘clear’ dan tidak pernah terjadi.

Sengaja kami liburan menggunakan transportasi yang disukai anak-anak. Mulai dari kereta api, sampai bis double decker. Intinya apapun itu yang bisa membuat anak-anak saya ceria kembali, akan saya lakukan. Sekolah online anak-anak pun tak liburkan semua. Biar mereka ceria dan bahagia dulu tanpa beban.

Alhamdulillah, kami kami bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ujian yang kami lalui membuat kami semakin bersyukur.

Dulu saat awal-awal gangguan terjadi, saya sangat emosional, sering menangis. Bahkan saat ditelepon orang tua pun saya menangis seperti anak kecil. Mungkin itu kali pertama orang tua saya melihat anak sulungnya menangis seperti itu. Saya gak pernah menangis di depan orang tua, apalagi sampai sesegukan.

Ditengah down-nya mental saya saat itu, saya banyak mendengar kabar musibah dan cobaan yang dirasakan teman dan kolega saya sendiri. Ada kawan saya yang diuji dengan sakit diabetes sampai harus suntik insulin setiap hari. Ada lagi kawan saya yang diuji dengan kebangkrutan.

Jika saya berada pada posisi kawan saya di atas, mungkin saya tidak mampu menanggungnya. Memang Allah itu sangat adil. DIA menguji hamba-Nya sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. So, bagaimana mungkin saya tidak bersyukur?

Saat awal-awal saya sekeluarga tinggal di tempat ustadz Fadlan, ada seorang pasien wanita pimpinan perusahaan. Ia disihir oleh rekan kerjanya sendiri karena sikapnya yang terlalu ‘lurus’, sangat anti korupsi. Jelas rekan kerjanya yang korup menjadi terusik, lantas mengirim sihir kepadanya.

Celakanya, pasien wanita ini tidak bisa membaca Qur’an sehingga mudah baginya terkena serangan sihir. Tidak ada pembentengan diri. Pasien wanita tersebut sudah puluhan kali diruqyah, tapi tak kunjung sembuh.

Melihat kejadian itu, seakan-akan saya sedang diajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana serta pribadi yang lebih berhati-hati dalam bermuamalah dengan orang lain. Sebisa mungkin minimalisir konflik dengan orang lain yang berpotensi membuat hati orang terluka. Terlebih rekan kerja.

Mungkin saja kita berada pada posisi yang benar, namun kalo ada orang lain yang hasad atau tersinggung dengan sikap kita, bukan tidak mungkin mereka akan main sihir. Jika kita lalai dari dzikrullah, maka akan sangat mudah dukun menyerang dengan sihirnya.

Gangguan jin semakin menambah iman kami kepada Allah ta’ala. Eksistensi bangsa jin yang telah dikabarkan dalam Quran dan Hadits shahih pun terbukti. Kami juga semakin meyakini lemahnya gangguan jin dihadapan dzikrullah. Semakin membuktikan kebenaran Quran dan Haditst.

Memang setiap musibah itu selalu ada hikmahnya. Semoga rangkaian cerita yang sudah saya ceritakan sampai part 9 ini bermanfaat bagi yang membacanya serta bisa diambil hikmahnya.

Saya secara pribadi mohon maaf jika selama menuliskan cerita ini dan dalam membalas komentar ada kata-kata yang salah atau menyinggung. Semoga Allah ta’ala mengampuni dosa kita semua.

Selesai

Hendy Mustiko Aji

Jin Nasab (Part 8)

Part 8.

Setelah kejadian dialog dan meng-Islamkan jin-jin yang ada di tubuh anak kami. Alhamdulillah, gangguan yang berasal dari dalam relatif gak ada lagi.

Pernah sih beberapa kali bagian tubuh anak kami ada yg sakit. Namun, alhamdulillah setelah diruqyah sebentar langsung hilang sakitnya. Yang jauh lebih terlihat adalah gangguan dari luar.

Gangguan luar pertama adalah cakaran. Jadi tiba-tiba ada bekas cakaran di tangan dan kaki anak-anak kami. Dicakar ketika tidur maupun ketika sedang main-main. Beberapa ada yang tidak terlalu sakit, dan beberapa lagi kata anak kami cukup dalam sehingga cukup sakit.

Gangguan luar kedua adalah bau bangkai di ruang tamu. Gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba bau bangkai. Bau bangkainya tapi rada aneh. Biasanya bau bangkai itu semakin kesini semakin pekat menyengat. Tapi ini bau bangkainya sifatnya ‘light’.

Kalo kata istri saya seperti bau rendeman kain yang busuk, tapi busuknya ndak semenyengat bau bangkai pada umumnya. Dan juga ada tiga lalat ijo berterbangan di ruang tamu. Mungkin karena bau bangkai itu.

Akhirnya coba tak ruqyah membacakan Al-Baqarah Full dilanjut dengan menyipratkan bidara yang sudah dicampur garam. Alhamdulillah, setelah itu bau bangkainya hilang. Berarti memang bau bangkai itu berasal dari gangguan jin. Lalat ijo yang berterbangan pun tak pukul mati dengan menyebut nama Allah.

Ganggun luar berikutnya adalah gangguan yang menunjukkan penghinaan syaithon ini kepada al-Quran. Syaithon ini membuang Quran anak saya ke dalam kamar mandi, diceburin ke bak mandinya sampai basah.

Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali hingga seluruh Quran di rumah saya ‘habis’ karena semuanya dicemplungin ke bak di kamar mandi. Bisa dilihat di Gambar 1.

Bukan hanya Quran yang dihinakan, buku sekolah anak saya juga begitu. Diumpetin, dsobek, dibasahin hingga gak bisa dipakai. Mukena istri saya dibuang ke selokan di depan rumah. Alhamdulillah selokannya kering. Bisa dilihat di Gambar 2.

Karena seluruh Qur’an sudah habis, kami pun beli lagi sebanyak 4 Quran. Namun, lagi-lagi Quran baru yg dibaca anak saya dimasukkin lagi ke bak yang ada di kamar mandi. Kali ini surat al-Baqarahnya disobek habiss…. Bisa dilihat Gambar 3.

Kami hanya bisa beristighfar. Astaghfirullah.

Namun demikian kami gak mau menyerah begitu saja. Syaithon ini harus kami lawan. Kami memohon kepada Allah ta’ala yang maha perkasa agar menyegerakan adzab untuk syaithon ini karena penghinaan mereka kepada kalamullah berkali-kali.

Di hari Jum’at ini, kami memohon juga kepada pembaca untuk melaknat syaithon ini dan mendoakan agar syaithon ini disegerakan adzabnya. Aamiin..

Untuk mencegah syaithon mencemplungkan Quran kami ke kamar mandi lagi, akhirnya kami membeli plasti Zip. Jadi, setelah baca Quran harus langsung ditaro di plastik Zip, sehingga masih aman meskipun diceburkan ke bak mandi. Bisa dilihat di Gambar 4

Hal lain, kami pun juga mendisiplinkan untuk selalu menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Sebelumnya, pintu kamar mandi ndk pernah tertutup rapat.

Setelah mencoba ikhtiar tersebut, alhamdulillah tidak ada lagi Quran yang diceburkan ke bak di kamar mandi. Darisitu kami mulai menduga bahwa syaithon ini tidak mampu memindahkan barang dari dan ke tempat yang terkunci rapat.

Akhirnya kami beli box plastik yang tutupnya bisa dikunci rapat untuk menyimpan Quran dan buku sekolah anak-anak. Semenjak itu, alhamdulillah sudah tidak ada lagi Quran yang hilang dan diceburkan ke bak di dalam kamar mandi.

Namun ternyata ada gangguan ‘luar’ lainnya. Yakni ketika wudhu, anak saya tiba-tiba telanjang bulat dan seluruh pakaiannya ada ada di dalam bak mandi di kamar mandi. Basah semua. Memang diluar nalar, tapi begitulah adanya. Kejadiannya kalo gak salah sudah dua kali.

Setelah itu, kami berikhtiar membeli smart CCTV yang bisa dipantau melalui smartphone. Alhamdulillah, setelah ada CCTV gangguan di atas sudah tidak pernah lagi terjadi. Saya juga gak tahu kenapa.

Sudah kurang lebih 1 bulan kami sekeluarga ruqyah mandiri dengan membaca Al-Baqarah full konsisten setiap hari. Alhamdulillah, kami merasakan progress yang sangat positif. Gangguan relatif sudah tidak ada, dan kami jadi dipaksa untuk melakukan kebiasaan baru. Anak saya juga jadi hafal beberapa lembar surat al-Baqarah karena dibaca terus setiap hari. Semoga Allah menghapus dosa-dosa kami dan menambahkan pahala untuk kami.

Sampai hari ini masih kami pantau terus gangguannya. Harapan kami semoga musnah semua syaithon kaafir penghina kalamullah itu.

Pada part berikutnya insya Allah akan saya ceritakan perkembangannya, khususnya setelah uyut anak kami meninggal dunia setelah di ruqyah kurang lebih 1 bulan sebelumnya.

Semoga part berikutnya adalah part terakhir. Aamiin.

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/05/31/jin-nasab-part-9-selesai/

Jin Nasab (Part 2)

Izinkan saya melanjutkan cerita sebelumnya.


Gangguan jin kepada anak kami semakin frontal hari ke hari. Bukan hanya saat akan ibadah saja, tetapi juga saat tidak akan melaksanakan ibadah. Sampai satu kejadian dimana saya pribadi begitu khawatir akan keselamatan anak saya.


Saat itu hari Jum’at, anak-anak sedang bermain di kamar kami sekitar pukul 14.00-an. Istri saya tertidur, dan saya juga sangat mengantuk. Saya pun tiduran di kasur, niatnya gak tidur karena saya ada kelas pukul 15.30 WIB. Namun, qadarallah saya tertidur juga pada akhirnya.
Bangun-bangun dari tidur, saya mendapat cerita yang betul-betul membuat saya sangat menyesal kenapa saya tertidur. Ketika saya tidur, dan istri juga tidur, anak kami cerita katanya lampu dimatikan kembali oleh Jin. Lalu anak kami cerita katanya ia dilempari batu-batu jorok berbau pipis (istilah anak kami) oleh jin yang membawa tali dan jarum. Lalu ia dilempar keluar kamar (nembus pintu), dan dilempar balik ke dalam kamar (nembus pintu).


Anak kami juga cerita bahwa mulutnya dikunci dan tangannya dibekap, sehingga tidak bisa berteriak minta tolong kepada kami. Luka (terbeset akibat dilempar batu) ditangannya akibat serangan Ghoib pun ada bekasnya dan masih terasa.
Anak saya terus terusan ingin dicelakakan ketika kami lengah. Pukul 15.00-an saya mengambil pesanan Go-Send dan meminta anak saya duduk di sofa ruang tamu. Selang beberapa detik setelah saya menerima Go-Send, anak saya teriak minta tolong. Ternyata jin melemparnya lagi ke bawah kasur dengan kepala yang terpentok dan tertindih kasur.


Dari situ saya peluk anak saya sambil mengatakan,
“Yang sabar ya sayang, Allah pasti menurunkan pertolongan”
Saya peluk sambil membaca ayat kursi berkali-kali. Hingga saya pun tak kuasa menahan tangis terisak-isak. Kami tidak takut dengan jinnya, melainkan sangat khawatir dengan keselamatan anak kami.
Setelah kejadian itu saya putuskan untuk cancel seluruh kelas saya selama seminggu. Saya pun minta ijin ke kampus untuk tidak bisa mengikuti kegiatan kampus apapun. Baik mengajar atau kerjaan tim.
Detik itu juga saya bawa anak saya dan keluarga untuk ruqyah ke tempat Ust. Fadlan Abu Yasir di Kota Gede. Beliau adalah praktisi Ruqyah ternama di Jogja.


Saya memohon kepada Ust. Fadlan agar berkenan menampung saya, istri dan anak-anak di tempat beliau karena saya sangat trauma sekali di rumah. Lengah beberapa detik saja, anak saya bisa semakin celaka!
Saya cerita kronologis kejadiannya kepada Ust. Fadlan sambil menganalis jenis gangguan jin seperti apakah yang menyerang anak kami. Hingga kami meyakini bahwa gangguan yang diterima anak kami adalah gangguan Jin Nasab atau Jin yang secara otomatis diturunkan dari bapak/kakek/uyut/leluhur kepada nasab/keturunannya.


Jin Nasab ini turun secara otomatis, tanpa harus kita menerima atau menolak. Turun kepada siapanya tergantung bagaimana kontrak/kesepakatan awal dengan bangsa jin yang dilakukan oleh bapak/kakek/uyut/leluhur. Kesepakatan/persekutuan dengan bangsa jin itu bentuknya bisa berbagai macam, diantaranya tenaga dalam, ilmu kebal dan bentuk lainnya.
Hipotesis Jin Nasab itu pun menguat karena uyut anak kami memang diketahui sebagai orang yang punya ilmu tenaga dalam.

Malam hari setelah anak kami di ruqyah oleh ust. Fadlan sambil menangis karena kesakitan di beberapa bagian tubuhnya, ia pun bercerita kepada kami bahwa sebetulnya ia bisa melihat makhluk-makhluk aneh semenjak kecil (indigo). Ia tidak pernah menceritakan kepada kami karena pikirnya itu hanya bayangannya saja. Ia juga melihat jin yang mendzoliminya. Katanya warnanya hitam dan jorok (bau).
Ini semakin menguatkan hipotesis terkait Jin Nasab. Salah satu ciri pasti dari orang yang diturunkan Jin Nasab adalah indigo semenjak kecil.


(Bersambung insya Allah jika banyak yang mau membaca kelanjutannya….)

Nb:
Cerita ini saya tuliskan agar bisa menjadi pelajaran dan menambah keimanan bagi yang membaca

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/01/22/jin-nasab-part-3/

Blog at WordPress.com.

Up ↑