Haters

[Bismillah]

Some people don’t find a reason to hate you, except just because can’t be like you. Don’t waste your time to pay attention for haters.

Don’t give up on who you are as long as on the right path. Keep shining and move on. Your life is your achievement. Do not let your way be determined by the hatred of others

Allahu yubaariku fiikum.

(Ust Ammi Ahmad)

Antara Suami dan Orang Tua

Seringkali seorang istri tatkala berbuat baik, tunduk dan patuh kepada kedua orang tuanya, maka ia merasa telah benar-benar beramal sholeh.

Maka bisakah ia menghadirkan perasaan ini tatkala ia tunduk, patuh dan berbuat baik kepada suaminya? Tatkala ia berbakti kepada suaminya seakan-akan ia berbakti kepada kedua orang tuanya?

Seringkali seorang istri merasa telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh dan tatkala menyakiti hati kedua orang tuanya, maka apakah ia juga merasakan telah terjerumus dalam dosa besar tatkala tidak patuh, tidak taat serta tatkala menyakiti dan menyedihkan hati suaminya?

Bukankah para ulama telah menjelaskan bahwa seorang istri harus lebih berbakti kepada suaminya daripada kedua orang tuanya?

Semoga Allah menjadikan para istri-istri sholehah lebih semangat dalam berbakti kepada suami-suami mereka.

Sungguh keridhoan suami-suami mereka adalah kunci untuk membuka pintu-pintu surga, aamiin.

(Ust Firanda Andirja)

Sikap Pertengahan Terhadap Ibnu Sina

.
Abu Ali Al Husain bin Abdillah al-Balkhi (wafat 427H), lebih dikenal dengan nama Ibnu Sina, adalah seorang ilmuwan ahli di bidang kedokteran, bidang filsafat, kimia dan berbagai macam ilmu lainnya. Beliau terkenal cerdas dan menguasai cukup banyak bidang ilmu. Beliau juga belajar agama, akan tetapi pelajaran agama beliau banyak terpengaruh oleh ilmu filsafat Yunani dan terpengaruh ajaran-ajaran yang menyimpang akidah Islam. Bahkan penyimpangan-penyimpangan yang ia lakukan sampai pada level mengeluarkan pelakunya dari Islam. Beliaupun ikut mendakwahkan akidah menyimpang ini, dan menulis beberapa kitab filsafat diantaranya “asy-Syifa”, “al-Isyarat”, “al-Qanun”, dan yang lainnya.
.
Inti dari tulisan kami adalah sikap pertengahan terhadap Ibnu Sina terkait status beliau sebagai ilmuwan dan akidah beliau yang sangat jauh keluar dari Islam. Ada beberapa poin yang perlu kita perhatikan:
.
Pertama: Banyak ulama yang sudah menganggap beliau keluar dari Islam karena akidah yang sangat melenceng dari Islam. Mungkin ini hal ini membuat “kaget” sebagian kaum muslimin di Indonesia karena selama ini mereka mengira bahwa Ibnu Sina adalah Islam dan ilmuwan Islam. Kami akan nukilkan perkataan-perkataan ulama yang menyatakan hal ini, terutama ulama yang terkenal dari mazhab Syafi’i yang merupakan mazhab mayoritas di Indonesia semisal Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Ibnu Katsir. Masih banyak penjelasan ulama lainnya terkait akidah Ibnu Sina ini.
.
Kedua: Status beliau sebagai seorang ilmuwan, maka kita pun memperlakukan beliau sebagaimana ilmuwan non-muslim lainnya. Tidak haram mengambil ilmu dunia bermanfaat dari beliau, selama hal itu tidak ada kaitannya dengan agama.
.
Ketiga: Ada pendapat yang lemah (karena kebenarannya belum bisa dipastikan) bahwa beliau telah bertaubat dari akidah yang menyimpang tersebut ketika akan meninggal. Tentu kita sangat berharap ini benar. Namun demikian, pendapat ini lemah, dan yang terpenting bagi kita adalah tetap berlepas diri dan mengingatkan umat dari akidahnya yang sangat melenceng dari akidah Islam.
.

(Ust dr Raehanul Bahraen)

Hijrah itu Totalitas

Hijrah itu totalitas, tidak takut kehilangan teman lama yang ahli maksiat, tidak takut kehilangan pekerjaan lama yang haram, tidak takut kehilangan lembaga-yayasan lama yang menyimpang ataupun syubhat, tidak takut kehilangan lingkungan lama yang penuh kubangan dosa.

Hijrah dari dosa masa lalu itu harus berani, jangan khawatirkan rezeki (dari) Allah,

Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah ganti dengan yang jauh lebih baik, syaratnya ya tinggalkan dulu, baru Allah ganti. Bukan cari aman dulu.

(Ust Hafzan El Hadi)

“…jangankan merangkul, mungkin mengingat namaku pun sudah tak sudi”

Simpati saya terhadap al-akh yang dipenjara adalah ketika di ujung jurang, tak satu pun temannya yang menolong. Bersuara pun tidak. Lantangnya para teman berubah menjadi gugup. Sebelumnya lantang anti rezim. Katanya pergerakan tapi kali ini tidak bisa atau tidak mau bergerak.

Mana sahabat sepercangkulan yaitu al-ustadz fulan dan allan, yang di masa ceria saling merangkul. Yang sama-sama hendak mempersatukan umat, menurut mereka.

Saya sangat berharap agar al-akh menyadari bahwa teman sejati bukan yang seperti itu. Yang sungkan menasehati karena kita sebarisan dan sama-sama punya kepentingan, entah kepentingan popularitas, komunitas, dan duniawi lainnya. Koaran dan keberanian (kenekatan) al-akh adalah instrumen yang selama ini dimanfaatkan para ‘teman’. Inilah teman kepentingan.

Kini mari kita introspeksi perjuangan kita selama ini. Apa tulus untuk menegakkan kalimat Allah dan syariat-Nya?

Mana penegakan itu jika syirik masih tidak menjadi tema pembahasan dan bid’ah justru jadi perhiasan?! Berteman dengan ahlul bid’ah bahkan bersatu padu demi menggalang persatuan, yang pada akhirnya peristiwa demi kejadian mmembuat kita tahu rupanya selama ini hanya kepentingan. Berjuang ketika bermassa, namun mencari aman saat teman dipenjara.

Anda mungkin geram membaca ini dan tidak geram dengan kebid’ahan teman. Jika betul Anda menuju pemurnian Islam dan melawan kebid’ahan, maka mengapa Ahlul Bid’ah menjadi teman kencan dan hukum buatan manusia dijadikan perahu masa depan?!

Jika rangkulanmu hanya untuk ‘kepentingan’, maka di saat aku sudah tidak penting lagi, jangankan merangkul, mungkin mengingat namaku pun sudah tak sudi.

(Ust Hasan Al Jaizy)

Blog at WordPress.com.

Up ↑