Benarkah Imam Ahmad Rujuk (dari Melarang Pembacaan Al Qur’an di Kuburan)?

Al-Allamah Syamsuddin Ibnu Muflih al-Hanbali (wafat tahun 763 H) rahimahullah menukilkan rujuknya al-Imam Ahmad rahimahullah dari melarang membaca al-Quran di kuburan. Beliau berkata:

وَلِهَذَا رَجَعَ أَحْمَدُ عَنِ الْكَرَاهَةِ، قَالَهُ أَبُو بَكْرٍ،

“Oleh karena itu al-Imam Ahmad rujuk dari pendapat dibencinya membaca al-Quran di kuburan. Demikian menurut Abu Bakar al-Khallal.” (Al-Mubdi’ fi Syarhil Muqni’: 2/281).

Kisah ini diceritakan oleh al-Imam Abu Bakar al-Khallal dalam Kitab al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu anil Munkar. Beliau berkata:

وأخبرني الحسن بن أحمد الوارق ، قال : حدثني علي بن موسى الحداد ، وكان صدوقا ، وكان ابن حماد المقريء يرشد إليه ، فأخبرني قال : كنت مع أحمد بن حنبل ، ومحمد بن قدامة الجوهري في جنازة ، فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر ، فقال له أحمد : يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة ، فلما خرجنا من المقابر محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل : يا أبا عبد الله ، ما تقول في مبشر الحلبي ؟ قال : ثقة ، قال : كتبت عنه شيئا ؟ قلت : نعم ، قال : فأخبرني مبشر ، عن عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج ، عن أبيه أنه « أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة ، وخاتمتها ، وقال : سمعت ابن عمر يوصي بذلك ، فقال أحمد : ارجع فقل للرجل يقرأ . . »

“Telah menceritakan kepadaku al-Hasan bin Ahmad al-Warraq, ia berkata: “Telah menceritakan kepadaku Ali bin Musa al-Haddad –dan dia adalah shaduq dan adalah Ibnu Hammad al-Muqri’ membimbing kepadanya-, maka ia menceritakan kepadaku. Ia berkata: “Aku bersama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah al-Jauhari di dalam prosesi jenazah. Ketika mayit dikuburkan, maka seseorang yang buta duduk untuk membaca al-Quran di kuburan. Maka Ahmad berkata: “Wahai Orang ini! Sesungguhnya membaca al-Quran di kuburan itu bid’ah.” Ketika kami keluar dari kuburan, Muhammad bin Qudamah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: “Wahai Abu Abdillah! Apakah pendapatmu tentang Mubasyir al-Halabi?” Beliau menjawab: “Dia tsiqat.” Beliau bertanya: “Kamu menulis darinya?” Aku menjawab: “Iya.” Muhammad bin Qudamah berkata: “Telah menceritakan kepadaku Mubasyir dari Abdurrahman bin al-Ala’ bin al-Lajlaj dari bapaknya bahwa ia berwasiat jika dia dikuburkan agar dibacakan awal dan akhir al-Baqarah di sisi kepalanya. Ia berkata: “Aku mendengar Ibnu Umar berwasiat demikian. Maka Ahmad berkata: “Kembalilah dan katakan kepada orang buta tadi agar menbaca..dst.” (Atsar riwayat al-Khallal dalam al-Amr bil Ma’ruf wan Nahyu anil Munkar: 246 (292)).

Jawaban:

Kisah di atas itu syadz (janggal), aneh dan lemah, karena berikut ini:

Pertama: di dalam sanad al-Khallal terdapat al-Hasan bin Muhammad al-Warraq dan Ali bin Musa al-Haddad, keduanya adalah orang yang majhul. Sehingga riwayat ini lemah. Al-Allamah Nashirudin al-Albani rahimahullah berkata:

إن في ثبوت هذه القصة عن أحمد نظر، لان شيخ الخلال الحسن بن أحمد الوراق لم أجد ترجمة فيما عندي الان من كتب الرجال، وكذلك شيخه علي بن موسى الحداد لم أعرفه، وإن قيل في هذا السند أنه كان صدوقا، فإن الظاهر أن القائل هو الوارق هذا، وقد عرفت حاله.

“Sesungguhnya kebenaran kisah ini dari Ahmad bin Hanbal, perlu ditinjau lagi. Karena guru al-Khallal, yaitu al-Hasan bin Ahmad al-Warrraq, belum aku temukan biografinya dalam rujukan yang aku punyai sampai sekarang dari kitab-kitab perawi hadits. Demikian pula gurunya, yaitu Ali bin Musa al-Haddad belum aku ketahui tentangnya. Jika dikatakan dalam sanadnya bahwa ia adalah seorang shaduq (jujur, pen), maka yang jelas bahwa orang yang menilainya adalah al-Warraq ini. Dan kamu sudah mengetahui keadaannya.” (Ahkamul Jana’iz wa Bida’uha: 192).

Kedua: di dalam kisah ini terdapat pelecehan terhadap al-Imam Ahmad rahimahullah. Beliau –dalam kisah ini- dengan mudah menerima hadits dari Muhammad bin Qudamah al-Jauhari. Padahal para ulama Ahlul hadits lainnya tidak mau menerima hadits darinya dan menganggapnya ‘Matrukul Hadits’ (ditinggalkan haditsnya), tetapi al-Imam Ahmad mau menerimanya mentah-mentah.

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

مُحَمَّد بن قدامَة الْجَوْهَرِي ضعفه أَبُو دَاوُد لم يخرج عَنهُ أحد

“Muhammad bin Qudamah al-Jauhari, dilemahkan oleh Abu Dawud dan tidak ada seorang Ahlul Hadits pun yang mengeluarkan haditsnya.” (Al-Mughni fidh Du’afa’: 2/625).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وقال الآجري عن أبي داود ضعيف لم أكتب عنه شيئا قط.

“Al-Ajurri berkata dari Abu Dawud bahwa beliau berkata: “Dia (al-Jauhari) dhaif (lemah) dan aku tidak mau meriwayatkan satu hadits pun darinya.” (Tahdzibut Tahdzib: 9/364).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa kisah ‘Rujuknya al-Imam Ahmad dari melarang membaca al-Quran di Kuburan’ adalah tidak benar

Oleh : dr. M Faiq Sulaifi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: