Jin Nasab (Part 7)

Part 7.

Setelah kurang lebih 2 minggu di tempat ustadz Fadlan dan setelah meruqyah uyut anak-anak kami, alhamdulillah tidak ada lagi gangguan kepada anak-anak kami, khususnya ketika melakukan ibadah. Dari situ kami memutuskan kembali ke rumah pada waktu pagi hari. Sampai-sampai rumah langsung ruqyah rumah.


Alhamdulillah, mukena yang dulu disembunyikan dan belum ketemu tiba-tiba ketemu. Ternyata ada di kardus pojokan. Padahal dulu kami cari disitu mukenanya, tapi dulu gak ada disitu.
Siang hari menjelang sore, kami dikejutkan dengan kembali hilangnya Al-Qur’an. Setelah dicari ternyata syaithon ini menyembunyikannya di bawah spingbed yang tak berdipan. Saya pelajari memang syaithon ini betul-betul sangat menghinakan Qur’an.


Gangguan belum berakhir, namun alhamdulillah meskipun demikian gangguannya tidak separah saat awal-awal dulu. Kami terus mengupayakan ruqyah syar’iyyah secara mandiri, sesekali kami ruqyah ke tempat ustadz Fadhlan.
Syaithon menggangu anak kami dengan membuat rasa sakit di perut. Sakit perutnya gak hilang-hilang sampai hari berikutnya. Sampai membuat anak kami nangis karena menahan sakit.
Sebagai orang tua, saya mencoba kemungkinan diagnosis lain. Akhirnya saya bawa ke dokter. Setelah dicek, ternyata anak saya sakit infeksi saluran kencing (ISK). Keluhannya kalo pipis ada sensasi panas dan gatal dibagian kemaluannya.

Seminggu setelahnya kami kontrol ke dokter. Berdasarkan hasil lab, sudah gak ada lagi ISK, tapi pipis anak masih panas sampai beberapa hari kemudian, perutnya juga masih mengeluh sakit. Menguatkan dugaan bahwa sakitnya itu bisa jadi karena pengaruh syaithon. Allahua’lam.
Saya bawa ke ustadz Fadlan untuk diruqyah. Coba tebak, bagaimana caranya ustadz Fadhlan meruqyah area kelamin?
Beliau menggunakan teknik pijat refleksi, dengan meruqyah titik saraf di kaki yang nyambung ke area kelamin. Alhamdulillah, setelah itu langsung hilang sakit di perutnya dan pipisnya juga sudah ndk ada sensasi panas lagi.


Serangan terus berlanjut. Syaithon menyihir mata anak saya (lagi). Kali ini anak saya dibuat tidak bisa membaca Al-Quran. Kata anak saya ada tai di Quran yang menutupi pandangannya.
Astaghfirullah. Betul-betul penghinaan yang luar biasa yang dilakukan syaithon ini.
Gangguan lainnya adalah berbentuk suara. Saat solat anak saya diperdengarkan suara Bom, sehingga membuatnya kaget dan terpental. Gangguan ini berlangsung selama beberapa hari kemudian.
Pada suatu hari kami juga cukup dikagetkan bahwa ternyata si jin di tubuh anak kami mulai bisa ‘bicara’ melalui mulut anak kami. Waktu itu, anak kami sedang baca Al-Baqarah, tiba-tiba mulutnya bersuara “Ssstt….!!”, memotong bacaan anak kami. Sambil jari telunjuk tangannya ditempel ke bibir. Berulang-ulang seperti itu.


Sampai ketika jin nya berbicara. Diantara kalimatnya yang saya ingat, “aku mau pulang ke pohon”, “aku mau ke XXX (kota tempat uyut anak kami) lagi”, dia juga bilang “nama saya Jin, bukan syaithon!”
Ngomong terus gak berhenti-berhenti. Saya bilang ke anak saya untuk terus baca Al-Baqarahnya.
Saat baca ayat “wat taba’u ma tatlusy syayathin…..”, jinnya berkomentar, “bukan wat taba’u tapi wat taba’e…”.
Lalu saat ayat “min kulli daabbah….”, jin nya ngoceh “saya suka Daabbah…”. Ngoceh terus. Kami cuekin aja.
Saya pun memutuskan beli buku-buku ruqyah syar’iyyah untuk belajar lebih dalam terkait jin dan dunianya, gangguannya serta pembentengan diri dari mereka.


Saya membaca buku Ruqyah karya Syaikh Waahid Abdussalam Baali. Beliau menjelaskan seluk beluk dunia jin. Di dalam bukunya juga dijelaskan metode dan pengalaman beliau dalam melakukan Ruqyah.
Impresi saya setelah membaca buku Syaikh Waahid sangat positif. Beliau menggunakan metode pendekatan ‘baik-baik’ terlebih dahulu, dengan menceramahi jin, meng-Islamkan baru setelah itu disuruh keluar. Kalo gak mau disuruh keluar, baru disikat.


Sekedar untuk diketahui dan dipahami saja oleh para pembaca bahwa Ruqyah itu gak sesederhana teori yang kalian baca. Terkhusus pada kasus anak kami.
Saya sering membaca komentar yang seakan menggampangkan dan meremehkan kasus yang kami alami, “begini aja…”, atau “begitu aja….”.


Pada kasus kami, ruqyahnya gak sesederhana baca ayat kursi terus ilang seketika. Gak sesederhana minum air bidara terus ilang. Gak sesederhana “jangan ketergantungan peruqyah, ruqyah mandiri saja!!”.
Pada beberapa kasus, justru lebih tepat ketika ruqyah dilakukan oleh praktisi/ahlinya. Setiap kasus perlu metode tersendiri, yang hanya bisa diidentifikasi orang yang bergelut di bidangnya.
Metode itu sifatnya luas. Makanya saya pernah bilang saya open dengan metode pengobatan manapun selama terbukti menyembuhkan dan gak mengandung kesyirikan.
Kalo kamu yang merasakannya atau mengalaminya sendiri apa yang kami rasakan, mungkin kamu baru bisa paham.


Singkat kata saya coba cara ruqyah dari buku Syaikh Waahid Baali hafidzahullah.
Saat itu siang menjelang sore hari, ketika diruqyah si Jin mulai kembali ngoceh. Saya tanya beberapa pertanyaan,
“kamu siapa namanya?”,
“apa agamamu?”,
“maukah masuk Islam?”,”kenapa kamu mengganggu anak saya?”,
dan beberapa pertanyaan lain sambil memberikan ancaman adzab Allah ta’ala karena berbuat dzolim.
Ketika ditanya nama dan agama, beberapa ada yang mau menyebutkannya dan beberapa tidak mau menyebutkannya.


Yang mau menyebutkan namanya seingat saya ada dua, namanya Kristina agamanya Nasrani dan satu lagi namanya Zimat (atau ‘Azimat) agamanya Yahudi. Total ada 6 jin saat itu. Semua saya tawarkan Islam.
Ketika ditanya kenapa mengganggu anak saya, jawabannya beragam. Ada yang bilang karena disuruh, ada yang bilang karena gak suka sama anak yang suka ibadah, ada yang bilang “saya jin baru dari tante XX” (indikasi bahwa jin ini adalah jin nasab).


Ketika ditawarkan Islam, ada yang mau ada yang gak. Yang gak mau alasannya karena gak boleh sama saudaranya. Ada yang ditahan sama setan lainnya. Ada juga yang minta diajarin dulu apa itu Islam. Saya suruh dia ke masjid belajar dengan jin Muslim disana, ikut majelis ilmu di masjid. Ada juga yang minta dibacakan ayat Quran.
Walhasil setelah bertanya baik-baik seperti itu satu per satu, mereka semua mau bersyahadat. Beberapa diantara mereka minta diberikan nama Muslim, beberapa memilih nama sendiri.
Yang laki ada yg saya berikan nama Muhammad, Ibrahim dan Sulaiman. Jin perempuan ada yang mengganti namanya menjadi Ruqoyyah, dan beberapa nama shahabiyah.


Setelah itu saya katakan kepada mereka bahwa mereka adalah saudara sesama Muslim dan saya buat perjanjian dengan mereka agar tidak masuk ke badan anak saya lagi.
Lalu saya suruh mereka keluar. Mereka bilang mau keluar lewat hembusan udara. Saya bilang “gak, keluar lewat muntah aja!”.
Jin bilang “saya tidak punya muntah”. Lalu saya suruh keluar lewat buang air kecil. Benar saja, enam kali anak saya pipis secara berurutan.


Untuk memastikan apakah jinnya sudah keluar, saya ruqyah kembali dan alhamdulillah tidak ada reaksi.
Beberapa dari kalian mungkin akan mengatakan “ngapain jin diajak dialog, “jin itu pendusta!”.
Saya sepakat gak ada keraguan tentang itu. Namun, mereka juga makhluk Allah yang dibebankan ibadah, sehingga perlu didakwahi dan diajak masuk Islam.
Yang saya lihat dari metode Syaikh Waahid Baali, boleh bertanya kepada mereka selama tidak menuruti permintaan mereka yang bertentangan dgn syariat, selama sebatas bertanya pertanyaan yang diperlukan saja terkait gangguan yang dirasakan.


Kalaupun mereka berdusta dengan syahadatnya, itu menjadi urusan mereka dengan Allah. Sama saja seperti manusia. Ada yang syahadatnya sungguh-sungguh dan main-main. Ya itu urusan mereka dengan Allah.
Itulah yang saya pelajari dari buku syaikh Waahid Abdussalam Baali hafidzahullah. Boleh sepakat, boleh tidak. Tapi ingat sekali lagi konsep “Bounded Rationality”. Yang belum kalian ketahui belum tentu salah. Atau sedikit ilmu yang sudah kalian ketahui bisa jadi kurang tepat. Seiring bertambahnya pengalaman, akan semakin bertambah juga wawasan dan cara pandang.


Faktanya setelah kejadian meng-Islamkan enam jin tersebut, anak saya tidak lagi mendengar suara bom, gak lagi melihat tai di Quran. Karakteristik gangguan yang berasal dari “dalam” berangsur menghilang. Alhamdulillah.
Pernah beberapa kali muncul lagi sakit di area tertentu, tp dibacakan (diruqyah) sebentar langsung hilang alhamdulillah.

Gangguan yang belum hilang adalah gangguan yang berasal dari “luar”. Seperti menyembunyikan Quran, bahkan sampai menyeburkan Quran ke dalam kamar mandi sampai basah kuyup. Buku sekolah anak-anak juga disembunyikan, disobek dan dibasahin di wastafel.


Syaithon yang kerjaannya mengganggu dalam bentuk gangguan luar seperti ini yang masih belum kapok.
Menurut keterangan salah satu jin yang masuk Islam sebelumnya, syaithon yang suka mengganggu kami dari awal dulu dgn cara ngumpetin mukena, alat sholat, Quran dan lainnya (monggo baca part-part awal) itu masih ada dan belum mati.

Insya Allah akan saya ceritakan pada part berikutnya, jika masih banyak yang ingin membaca cerita ini.

(Sebagaimana diceritakan akhi Hendy Mustiko Aji)

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/05/31/jin-nasab-part-8/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: