Jin Nasab (Part 6)

Part 6.
Hari Kamis, 17 Desember 2020, kami (saya, istri, anak-anak, ust. Fadlan dan tim) bertolak menuju rumah uyut anak kami ke kota yang dapat ditempuh dengan perjalanan selama kurang lebih 10 jam menggunakan mobil dari Yogyakarta. Kota/daerah yang memang terkenal dengan ‘pendekar’ nya.


Jum’at dini hari sekitar pukul 01.30 WIB kami sampai di hotel. Anak dan istri langsung tidur karena masih capek. Mereka harus banyak istirahat karena paginya pukul 08.00 WIB agendanya adalah meruqyah uyut anak kami beserta rumahnya.
Di hotel, saya merasakan gangguan yang terasa lebih kuat. Indikasinya adalah banyaknya suara-suara seperti kerikil jatuh dari plafon kamar.


Saya mengamati, sebelum gangguan terjadi dan ketika proses ruqyah dilakukan, selalu muncul suara kerikil dari plafon rumah. Entah itu berasal dari syaithon yang mengganggu anak kami atau bukan. Allahu’alam. Namun, pola nya seperti itu. Setiap ada suara kerikil jatuh di plafon, setelahnya ada gangguan.
Mendengar gelagat gangguan seperti itu di kamar hotel, saya memilih membacakan Quran serta doa perlindungan, memohon kepada Allah ta’ala. Saya baru tidur lagi sekitar pukul 03.00 WIB, dan harus bangun subuh sekitar pukul 04.00 WIB. Bisa dibayangkan, betapa capeknya saat itu.
Pukul 08.00 WIB, kami tiba di rumah uyut anak kami. Setelah persiapan, kira-kira pukul 09.00-an WIB ruqyah dilakukan. Datang hampir seluruh anak-anak uyut anak kami. Mereka yang sebelumnya menolak keras dilakukannya Ruqyah.


‘Ala kulli hal, ruqyah pun dilakukan. Dibacakan al-baqarah full menggunakan speaker sehingga terdengar seisi rumah. Uyut kami sudah sangat sepuh. Usianya 100 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana keadaannya. Hanya duduk di kursi roda. Tenaga hampir tidak ada.
Ketika diruqyah saya perhatikan gerakannya seperti mau muntah, tapi gak bisa. Berkali-kali seperti itu. Mungkin tadi, karena faktor tenaga yang sudah tidak ada.


Saya melihat kedua tangan uyut anak kami sempat mengangkat dengan membentuk pose seperti pose harimau. Namun setelah itu, lemes lagi. Ya, mungkin tadi.. Faktor usia, sudah lemah tidak ada banyak tenaga.
Anak kami didudukkan di dekat uyutnya. Reaksi justru terjadi pada anak kami. Tak seperti biasanya, sebelum-sebelumnya ketika diruqyah tidak ada reaksi berarti. Sebelum-sebelumnya, reaksi muncul hanya saat akan dan ketika beribadah saja. Tapi saat itu, mendengar bacaan ruqyah al-baqarah, anak kami (baca: syaithon di dalamnya) bereaksi. Kakinya menendang-mendang, tangannya berontak-berontak, kepalanya dijedot-jedotin.


Setelah selesai pembacaan al-baqarah full, kemudian seluruh rumah dicipratkan air bidara yang telah diruqyah. Dicipratkan di tempat-tempat yang mana suka muncul penampakan.
Pernah ada sejarah di rumah uyut anak kami penampakan kuntilanak dan syaithon lain. Pernah juga ada yang mendengar suara harimau di salah satu kamar. Intinya rumah uyut kami banyak setannya. Tempat yang dicipratkan air bidara bisa dilihat pada Gambar 1.

Setelah proses selesai, kami semua mendengar tausyiah dari ust. Fadlan. Disampaikan nasihat-nasihat terkait taqwa, kesyirikan, husnul khotimah. Sampai kemudian ust. Fadlan bertanya, apakah ada benda pusaka yang masih tersimpan?

Betapa terkejutnya kami, ternyata ada salah seorang anak uyut anak kami yang langsung menjawab “Ya, ada”. Tanpa dipaksa-paksa untuk mengaku, langsung spontan jawabannya, “Ya, ada”.
Kalo kalian mengikuti cerita part yang lalu, kami sudah pernah menceritakan bahwa menurut pengakuan keluarga besar, di rumah (uyut anak kami) sudah tidak ada lagi benda pusaka. Katanya hilang dan sudah dibawa orang. Ternyata kenyataannya pusaka itu masih ada, tidak hilang dan tidak dibawa orang, tapi tersimpan rapi terbungkus kain berwarna usang di dalam lemari kamar uyut anak kami.
Allahul musta’an….


Mengetahui hal tersebut, spontan langsung ust. Fadlan minta tolong diambilkan seluruh benda pusaka untuk kemudian dibakar. Fotonya seperti dapat dilihat pada Gambar 2 yang saya upload.
Seluruh pusaka yang sudah terlihat usang dibakar diatas kompor sambil membacakan doa tertentu. Ada keris, ukuran besar dan kecil, ada ‘komando’, dan pusaka lain. Setelah proses pemusnahan pusaka, kami berharap seluruh syaithon juga ikut terbakar hangus, putus semua kontrak dengan bangsa jin.
Hari itu, proses ruqyah dilakukan 2x. Sebelum sholat Jum’at dan setelahnya. Sore (maghrib) harinya, kami langsung pulang kembali ke Yogyakarta. Sangat menguras tenaga.


Selama di perjalannan, ketika anak kami sholat di dalam mobil, alhamdulillah sudah tidak ada lagi gangguan seperti biasanya. Tidak ada lagi kepala dijedotin, tangan dan kaki yang berontak-berontak ketika sedang sholat seperti biasanya terjadi. Ya, normal aja. Sampai 3 hari kemudian pun, alhamdulillah tidak ada lagi gangguan sama sekali.


Kami pun memutuskan pulang ke rumah kami, setelah sebelumnya sudah selama kurang lebih 2 minggu kami tinggal di rumah ust. Fadlan. Setelah pulang ke rumah, kami cukup terkejut. Ternyata terjadi lagi hal yang pernah terjadi saat awal-awal gangguan seperti saya ceritakan pada part 1.


Insya Allah bersambung ceritanya jika masih banyak yang mau membaca kelanjutan cerita ini.

(Sebagaimana diceritakan oleh akhi Hendy Mustiko Aji)

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/01/22/jin-nasab-part-7/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: