Jin Nasab (Part 5)

Part 5 ini lama tidak saya tuliskan karena berat jemari ini untuk menulis, mentok kepala ini untuk berfikir, tak kuasa hati ini melawan perasaan.


Pasalnya, tak pernah terfikir kami sekeluarga akan diuji dengan gangguan seperti ini. Melepas gangguannya (dari anak-anak kami) pun bukan perkara mudah dan instan. Terlebih lagi, banyak dari pembaca part sebelumnya yang berkomentar menyelekit hati. Dibilangnya saya menceritakan cerita fiktif lah, dibilangnya saya gak niat nulis lah karena bersambung-sambung, dst.


Semoga Allah mengampuni kita semua dan meningkatkan level ketaqwaan dan keimanan kita semua.
Sebelumnya sudah kami ceritakan bahwa besar kemungkinan, gangguan yang dialami anak kami mengarah ke indikasi syaithon nasab. Menghilangkan gangguan syaithon nasab ini bukannya mudah.
Cerita dari yang sudah-sudah, perlu waktu yang tak sebentar untuk memutus kontrak dengan syaithon nasab. Untuk itulah, ruqyah perlu dilakukan secara intensif terus menerus dengan metode yang efektif.
Sudah 1 mingguan setelah cerita part 4 sebelumnya anak-anak kami diobati dengan metode ruqyah syar’iyyah. Beberapa metode sudah dilakukan dan dicoba oleh ust. Fadhlan, diantaranya adalah dengan berendam air bidara yang dicampur es batu dan garam sambil dibacakan ayat Ruqyah. Satu waktu berendamnya seluruh tubuh, dan waktu lain direndam kaki dan tangan saja.


Kata ust. Fadhlan, air bidara dan garam adalah ramuan ruqyah dari syaikh Utsaimin rahimahullah. Adapun penambahan es batu dilakukan karena secara filosofis, syaithon terbuat dari api, sehingga dilawannya dengan dingin. Es batunya bukan sebiji-dua biji, tapi 5-10 bungkus besar.
Ust. Fadhlan sudah puluhan tahun mempraktikkan metode ini kepada pasiennya, dan memang cara tersebut efektif membuat syaithon yang bersemayam teriak kesakitan.


Selama tinggal berobat di tempat ust. Fadhlan, hampir setiap hari datang pasien dengan berbagai macam kasus. Hampir setiap hari juga kami dengar teriakan syaithon yang diruqyah. Ada pasien wanita yang terkena serangan sihir, saat diruqyah teriakannya suara lelaki.
Jujur, saya banyak melihat dan belajar hal baru terkait kasus gangguan syaithon.
Ruqyah dilakukan kepada anak kami sambil berendam selama kurang lebih 45-60 menit. Setelah itu dilanjut dengan minum air bidara. Kami melihat banyak pasien lain reaksi kesurupan ketika diruqyah, namun untuk kasus anak kami, tak banyak reaksi terjadi, tak pula sampai membuat kesurupan.
Katanya, bisa jadi Allah ta’ala menjaga mulut dan kesadaran anak kami dari dikuasai syaithon, karena anak kami penghafal (menjaga) Quran.


Setelah beberapa kali ruqyah dengan metode di atas dilakukan, reaksi baru muncul beberapa hari setelahnya. Anak kami mencret ketika BAB (keluarnya air saja). Lalu juga muntah. Namun muntahnya tidak berbau muntah (asam lambung). Reaksi tersebut menandai keluarnya syaithon dari tubuh anak kami.
Kata anak kami, setelah mencret dan muntah, badannya serasa lebih enteng. Namun, meskipun demikian, gangguan masih ada. Utamanya saat sholat dan ibadah. Kata ust. Fadhlan bisa jadi syaithonnya sangat banyak dan berlapis-lapis.


Kasus seperti ini lumrah terjadi pada kasus jin nasab/khoddam, karena tujuan memiliki jin ini adalah sebagai penjagaan diri, maka tak heran jika syaithonnya ada sangat banyak dan berlapis.
Beberapa malam sebelumnya istri saya bermimpi aneh. Istri saya melihat banyak mayat tergeletak, dan semua mayatnya hitam gosong. Lalu ada sesosok orang dalam mimpi istri saya bilang “disana masih banyak lagi (mayat gosong yang bergeletakkan)”.


Saya tanya ke Ust. Fadhlan, bisa jadi mayat gosong dalam mimpi istri saya adalah syaithon pengganggu anak kami yang mati terbakar karena diruqyah terus menerus.
Anak kami juga cerita bahwa selama ini ada dua jenis jin yang berinteraksi dengannya. Pertama adalah jin (syaithon) yang mengganggunya dan ingin mencelakakannya. Warnanya cokelat dan hitam serta berbau busuk. Jin ini yang menyembunyikan mukena dan alat sholat.
Dulu pas awal-awal diganggu, kami mencoba pergi ke hotel namun jinnya ternyata ikut (silahkan baca Part awal). Di hotel, anak kami melihat jin jahat membawa Quran dan Mukena yang masih hilang.


Kedua adalah jin yang ‘baik’ (bahasa anak kami), yang mencoba memotivasinya agar terus kuat dan bertahan. Kata anak kami, jin yang ‘baik’ ini suaranya lembut kaya umi, bercadar, dan wangi.
Ketika jin jahat mengunci mulut anak kami sehingga tidak bisa berdzikir dan membaca Qur’an, jin ‘baik’ ini selalu memotivasi. Suatu waktu jin ‘baik’ ini memberi tahu anak kami untuk menarik nafas dalam-dalam, baru membaca Quran. Dan cara itu berhasil.


Selain itu, jin ‘baik’ ini suka memberitahu dimana tempat alat sholat disembunyikan, namun selalu diteriaki jin jahat. Begitu cerita anak kami. Saya tanya ust. Fadhlan tentang jin ‘baik’ ini, kata beliau bisa jadi itu adalah jin yang sudah bertaubat. Allahua’lam. Hanya Allah yang tahu
Setelah diruqyah terus menerus, utamanya bagian mata dan telinganya, sekarang anak kami sudah tidak bisa lagi melihat jin dan mendengar suara-suara lagi.


Cerita ini masih berlanjut, insya Allah. Akan kami ceritakan jika memang masih banyak yang mau membacanya. Di Instagram, beberapa kali saya posting gambar-gambar terkait proses ruqyah.
Semoga ada pelajaran yang dapat diambil dari setiap cerita yang kami ceritakan.

(Sebagaimana diceritakan oleh akhi Hendy Mustiko Aji)

Selanjutnya: https://mistytrail.id/2021/01/22/jin-nasab-part-6/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: