Salah-Salah Malah dapat Dosa Jariyah

Bagaimana dengan bersedekah atau berdonasi buat ma’had atau pesantren yang mengajarkan kesyirikan di dalamnya?
Terlebih pesantren yang mengajarkan kesyirikan hampir pasti banyak mengajarkan bid’ah dalam i’tiqad dan amaliyah.

Dikuatirkan maunya dapat pahala, tapi malah dapat dosa jariyah.
(Kalau sedekah untuk pribadi, itu hal lain).

Padahal musibah dan bencana di mana-mana, itu tidak lepas akibat dari kesyirikan dan bid’ah yang merajalela di mana-mana, yang mereka dinasehati malah keras kepala.



“Kamu Jangan Nge-judge Gitu Dong! Kebenaran Hanya Milik Tuhan!”

Apa artinya belajar aqidah Islam dan manhaj, kalau lalu tidak bisa atau tidak berani memilah mana aqidah yang lurus dan mana yang menyimpang?

Tidak perlu termakan perkataan kaum liberal dan zindiq yang sedikit-sedikit bilang, “kamu jangan nge-judge gitu dong .. kebenaran hanya milik Tuhan”.

Kebenaran adalah milik Allah dan disampaikan kepada manusia oleh Rasul-Nya yang ma’shum, dan manusia diberi akal untuk bisa memilah dan membedakan (alias nge-judge) mana yang benar dan mana yang salah dengan menggunakan timbangan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan interpretasi generasi salaf, yaitu tiga generasi pertama kaum muslimin.

Mencintai Sunnah Nabi Ternyata Lebih Sulit daripada Mencintai Pribadi Nabi

Mencintai sunnah Nabi itu lebih sulit daripada mencintai Nabi sebagai pribadi.

Sebagai contoh:

  1. Rasulullah melarang memperbaharui kesedihan karena ditinggal mati orang yang dicintai. Tapi banyak kaum muslimin yang malah melakukan pesta kenduri arwah dalam hitungan hari-hari yang sudah ditentukan, sampai mereka harus hutang sana hutang sini untuk membiayai pesta makan-makan dan besekan
  2. Rasulullah tidak pernah mensyariatkan peringatan ulang tahun yang merupakan acara khas kaum kuffar. Tapi kaum muslimin malah membuat-buat acara peringatan ulang tahun, bahkan ulang tahun Rasulullah
  3. Begitu banyak hadits shahih yang memerintahkan umatnya untuk bersabar terhadap kezaliman pemimpin, tapi umatnya banyak yang pikir-pikir dulu. Yang ada malah memprovokasi masyarakat supaya memberontak.

Haaditsatul Ifki

Sesungguhnya ketika kita menyimak kisah haaditsatul ifki, di situ kecintaan, adab dan akhlak kita terhadap Rasulullah dan keluarganya diuji

“Shalawat” Bid’ah bahkan Syirik

Rangkuman “shalawat-shalawat” bid’ah, bahkan mengandung kesyirikan. Shalawat-shalawat yang tidak ada contohnya dari Nabi.

(Rincian silakan dibaca pada link-link di bawah).

  1. Shalawat Nariyah
    “…kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik…”
    Syair di atas jelas-jelas mempersekutukan Allah dengan RasulNya. Hanya Allah yang dapat melepaskan seseorang dari kesulitan dan menunaikan hajat-hajat hidupnya. Terlebih Rasulullah telah wafat. Meminta kepada seseorang yang sudah meninggal adalah syirik, terlebih untuk hal-hal yang hanya Allah saja yang dapat mengabulkannya.

  2. Shalawat Badar
    “….Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah…”
    Hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.
    Bertawasul dengan Nabi hanya bisa dilakukan dengan doa-doa Beliau saat masih hidup dan apa-apa dari fisik Beliau.
    Adapun bertawasul dengan Ahlul Badar tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan (karena Beliau telah wafat).
    Selain itu, tidak ada penjelasan yang shahih bahwa Thaha dan Yasin adalah nama lain dari Rasulullah. Dengan demikian ini termasuk mengada-ada.

  3. Qasidah Burdah
    “…Bagaimana engkau menyeru kepada dunia
    Padahal kalau bukan karenanya (Nabi) dia tiada tercipta…”
    Ini adalah kalimat bathil karena “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)”
    “Tiada kebaikan yang melebihi tanah yang menimbun tulangnya.
    Kebahagiaan (surga) bagi orang yang dapat menciumnya” – yang dimaksud di sini adalah makam Nabi.
    Tidak diragukan lagi bahwa semua ini adalah termasuk ghuluw yang menjurus ke pintu kebid’ahan dan kesyirikan.
    “…Aku bersumpah dengan bulan yang terbelah bahwa ada sumpah yang terkabulkan pada dirinya..”
    Ini adalah kalimat syirik karena bersumpah dengan nama selain Allah.
    “…Aku tidak memiliki pelindung wahai Rasul termulia selain dirimu di kala datangnya petaka…”
    Ini adalah kalimat syirik, karena meniadakan pelindung di saat datangnya petaka selain Nabi, padahal hal itu hanya khusus bagi Allah semata, tiada pelindung kecuali hanya Dia saja.
    “…Dan termasuk ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudh) dan pena. Diantara pemberianmu adalah dunia dan akheratnya…”
    Ini adalah kalimat bathil, karena Rasulullah tidak tahu isi Lauhul Mahfudz kecuali sedikit yang Allah wahyukan kepadanya. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. (QS. Al-An’am: 59)”.
    Kalimat kedua juga bathil, karena “Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akherat dan dunia. (QS. Al-Lail: 13)”

  4. Barzanji
    Ditulis oleh seorang penganut paham tasawwuf, Ja’far al-Barjanzi.
    “…Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari neraka Sa’ir
    Wahai penolongku dan pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan genting)”
    Ini adalah syair syirik, karena hanya Allah yang dapat menjadi penolong, pelindung, dan tempat beristighosah.
    “…Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek Husain selamat datang..”
    Ini adalah kalimat bathil. Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang hadir secara fisik? Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan, apakah yang hadir jasad nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ruhnya ataukah ruhnya saja.
    Penulis kitab Barzanji menyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua orang tua Rasulullah Shallallahu’alahi wa sallam termasuk ahlul iman dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia mengungkapkan dengan sumpah.

    Padahal;
    Bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya “Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku (setelah mati)?” Beliau Shalallahu’alahisasalam bersabda “Dia berada di neraka.” Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya dan bersabda : “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka”. (HR. Muslim dalam shahihnya (348) dan Abu Daud dalam sunannya (4718))
    Allahul musta’an.

  5. “Shalawat-shalawat” lain yang dirincikan dalam artikel sumber pada link di bawah


    Sumber:

    1. https://almanhaj.or.id/2669-pengakuan-cinta-rasul.html

    2. https://muslim.or.id/54-shalawat-nariyah.html

    3. https://almanhaj.or.id/2583-barzanji-kitab-induk-peringatan-maulid-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html?fbclid=IwAR0-vdFgyTUFRR-F9DridE0KbfqPlwhYKL7Y0iQbWxsNIIv7COMCcRyXxrU

    4. https://www.nahimunkar.org/daftar-sholawat-sholawat-bidah-tersebar-masyarakat-isinya-kebanyakan-mengandung-makna-kesyirikan-datang-hadits-hadits-dhoif-lemah/?fbclid=IwAR1BE6cZaIc_V73BmO1a3yxRmj1_G7dsX0otzA7_JZOyaWuowRhtPj_DEV0

    5. https://muslimafiyah.com/meminta-syafaat-nabi-kepada-allah-bukan-meminta-kepada-nabi.html?fbclid=IwAR1zPQF09nZhU7ZjEeIrVGHkr-xcNdJFFOcP69fEptPbUKc1dOw2pB1s-2A

Hujjah untuk Mementahkan Syubhat Kaum Murji’ah, Liberal, Filsuf dan ‘Islam’ Nusantara

Kebenaran adalah milik Allah dan disampaikan kepada manusia oleh Rasul-Nya yang ma’shum, dan manusia diberi akal untuk bisa membedakan dan men-judge mana yang benar dan mana yang salah dengan menggunakan timbangan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan interpretasi generasi salaf, yaitu tiga generasi pertama kaum muslimin.

Hujjah buat mementahkan syubhat lisan tipikal kaum murji’ah, liberal, filsuf dan ‘Islam’ Nusantara.


“There is no truth”
A: How could this be true?

“You cannot know the truth”
A: How do you know this is true?

“This is true for you, but not for me”
A: Likewise.

“Nobody really has the truth”
A: Except you when you say this?

“The truth always changes”
A: Will this truth change?

“All truth is relative”
A: Is this truth relative?

“You should doubt everything”
A: Should I doubt this?

“Everything is meaningless”
A: What do you mean by that?

“It is wrong to judge”
A: Is that not a judgement?

“You should never apply your moral standards on others”
A: Why it okay to apply this moral standard on me?

“You should never impose your beliefs on others”
A: Why is it okay to impose this belief on me?

“We should be tolerant of all views to prevent intolerance”
A: What if the views are themselves intolerant?

“There is no truth in religion, only in empirical science”
A: Can you use empirical science to prove this, or is it itself a philosophical, metaphysical assumption?

“Listen to me, you need to think for yourself!”
A: What if I think for myself and decide not to listen to you?

Father’s Love

Tak perlu kau heran, kenapa ayahmu jarang memanjakanmu layaknya kemanjaan dari sang ibu.
Karena ayah tahu betul, apa ujian yang akan kau hadapi diluar kelak.
Cara memanjakannya, beda dengan cara ibumu kepadamu.
Bukan karena ia tak sayang….!!
Tapi begitulah cara ia menanamkan rasa sayangnya padamu….

(Sulaiman Rasyid)

Zina di Pinggir Jalan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda:

”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan hancur umat ini hingga kaum pria mendatangi kaum wanita, lalu dia menggaulinya di jalan. Orang yang paling baik di antara mereka saat itu berkata, ’Seandainya engkau menutupinya di belakang tembok ini.’” [Diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Al Haitsami berkata, ’dan perawinya adalah perawi yang ash-Shahih.” Lihat Maj’mauz Zawaa-id (VII/331)]

Al Qurthubi (beliau adalah seorang ulama fikih madzhab Maliki, meninggal di Iskandaria th 656 H) berkata dalam al Mufhim, mengomentari hadits Anas terdahulu, “Di dalam hadits ini ada sebuah tanda dari tanda-tanda kenabian, karena beliau telah mengabarkan berbagai perkara yang akan terjadi, maka perkara itu pun telah terjadi terutama di masa-masa sekarang ini.” [Fathul Bari (I/179)]

Jika hal ini terjadi pada zaman Imam al Qurthubi, maka sesungguhnya hal ini lebih nampak lagi di zaman kita sekarang ini, karena besarnya dominasi kebodohan dan tersebarnya kerusakan di tengah-tengah manusia.

(Dan betapa kita lihat dan baca hari ini secara langsung dan dari surat kabar, kaum muda hingga kaum tua berpacaran, berselingkuh hingga berzina di pinggir jalan, di kantor-kantor, di taman-taman di mall dan di tempat-tempat wisata).

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/3464-tanda-kiamat-merebaknya-perzinaan.html

Berkah Hadir pada yang Sedikit dan yang Banyak

Ada orang kaya. Kekayaannya membuat ia semakin menjadi hamba yang shaleh di hadapan Allah. Tak pula ia bersikap sombong dalam bergaya, bersikap dan bertutur di hadapan manusia. Tak ada perasaan tinggi hati. Semakin bertambah rizkinya, semakin ia menderma. Banyak membantu para penuntut ilmu agama dan orang miskin. Sumber pemasukannya disaring agar yang halal lah yang masuk ke raganya dan raga keluarganya. Sangat menjauhi sumber yang haram lagi nista agar tak membuat Rabbnya murka. Diusahakannya tetap bermajelis ilmu agar tidak binasa dalam lumpur kebodohan, agar hatinya kokoh di zaman penuh ujian dan fitnah, agar biduh rumah tangganya berlabuh di taman Surga. Ini namanya berkah.

Ada orang miskin. Serba tak cukup. Ia pun tak menyalahi dan mencibir Rabbnya atas apa yang didapatinya sehari-hari. Miskin tak membuatnya kufur. Ia tak merasa hina. Hidupnya tenang dan lapang. Apa yang ada, ia syukuri. Lisan ditahan dan dikunci rapat agar tidak mengeluh sebab umpatan tak akan mengubah segalanya. Tangannya ditahan utk tak meminta-minta. Matanya ditahan agar tak menengok mereka yang ada di atas, pula agar orang-orang tak menatapnya iba. Ia bahagia dan tenang dengan iman dan ibadahya. Ini namanya berkah.

Berkah ada dan hadir pada yang sedikit. Juga pada yang banyak. Tapi bukan karena semata banyak atau sedikit. Berkah ada dan hadir pada yang kaya dan juga pada yang miskin. Tapi bukan karena semata kaya atau semata miskin. Berkah itu ttg hati penuh takwa, ttg anggota badan yang tetap memperagakan kebajikan dan kebaikan atas dasar aqidah dan ilmu, apapun yg terjadi, apapun yang sdg dialami.
__
(Ust Yani Fahriansyah)

Blog at WordPress.com.

Up ↑