Orang “Baik-Baik” dan Orang “Jelek”, Sama Saja

Orang “baik-baik”, yang disombongkan kepada orang lain itu tentang anak-anaknya yang pinter ini itu, membanggakan mereka rajin shalat, mengaji, sedekah, silaturahmi. Tentang dirinya dan keluarganya yang berakhlak baik kepada Allah dan makhluk-makhlukNya.

Orang “jelek”, yang disombongkan itu hartanya, kedudukannya, kemolekan istrinya, kemampuannya, jalan-jalannya, hobinya.

Golongan “baik-baik” dan “jelek” hakikatnya sama saja. Menganggap selainnya lebih rendah levelnya daripada dirinya. Bedanya, yang satu halus, satunya lagi vulgar.
Seperti kata Iblis yang membandingkan dirinya dengan Adam, “Aku lebih baik daripadanya”.
Ini cuma soal seni menyajikan kesombongan ke khalayak ramai saja.

Laki-Laki Normal

Seorang laki-laki normal, semakin dia memegang ajaran agama, semakin dia mudah tergoda oleh perempuan.
Semakin gampang ‘on’.
.
Lha piye? Ya iyalah, karena matanya selalu dijaga untuk tidak jelalatan ke mana-mana, karena dia punya rasa takut yang besar akan pertanggungjawaban akan dosa dari pandangannya. Akibatnya, dia mudah ‘ngegas” tapi di sisi lain dia punya ‘rem’ yang kuat.
.
Lain hal dengan lelaki jelalatan, apalagi sudah ketagihan bokep. Mereka tidak lagi mudah untuk ‘on’, sudah jenuh duluan. Yang ada, mereka terus dan terus menaikkan dosis kebokepannya supaya bisa tetap ‘on’. Kalau sudah begini, alamat gejala impotensi.
.
Bukankah wanita justru lebih suka lelaki yang gampang ‘on’?
Itu hanya diperoleh dari laki-laki yang menjaga pandangannya dari yang haram.

Kerugian Hakiki Kaum Musyrikin

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَأْمُرُوْٓنِّيْۤ اَعْبُدُ اَيُّهَا الْجٰـهِلُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh?””

(QS. Az-Zumar 39: Ayat 64)

اَ لَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَا لِصُ ۗ وَا لَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ ۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّا رٌ

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”

(QS. Az-Zumar 39: Ayat 3)

وَلَـقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِ لَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَئِنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.”

(QS. Az-Zumar 39: Ayat 65)

*****

Maka sangat rugi orang-orang yg berbuat syirik kepada Allah sebagaimana kafir Quraisy, yang menjadikan orang-orang shaleh yg sudah mati dan atau kuburannya sebagai perantara doa dan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sebagaimana saat ini sebagian orang yang mengaku muslim menjadikan permintaan kepada Rasulullah, Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, dan kuburan para mursyid mereka sebagai perantara doa. Musnah sia-sia semua amal mereka, dan mereka diancam kekal dalam api neraka. Na’udzubillahi min dzaalik.

Hendaknya manusia berhati-hati dengan lafadz-syair-lagu shalawat palsu yang isinya meminta pertolongan kepada Rasulullah, bahkan memposisikan Rasulullah sebagai dzat pemberi perlindungan, keselamatan dll yang hanya bisa dilakukan oleh Allah saja, karena ini sudah termasuk ke dalam syirik rububiyah yg menyebabkan seseorang kekal di neraka.

Abu Lahab dan Abu Jahal dan musyrikin Quraisy, merekapun merasa berada di atas kebenaran, mengklaim diri sebagai pengikut Ibrahim, menuduh Muhammad gila dan perusak tradisi nenek moyang dalam beribadah.

Abu Lahab berjenggot, bergamis, berbahasa Arab dengan sangat fasih, berwajah ganteng berseri kemerahan, berpostur gagah sempurna.

Tapi … mereka itulah kaum musyrikin yang dikutuk selamanya.

Padahal mereka mengakui keesaan Allah sebagai pencipta dan pemelihara manusia dan alam semesta, dan mereka merasa mewarisi keyakinan yang dibawa Ibrahim ‘alaihissalam.

Lalu di mana salahnya?

Salahnya adalah karena mereka memperantarai doa melalui orang-orang yang sudah mati, yang oleh sebab itu mereka jatuh ke dalam kesyirikan besar yang menyebabkan mereka keluar dari agama Nabi Ibrahim.

Bahkan mereka menolak dengan keras terhadap dakwah Rasulullah yang melarang mereka memperantarai doa kepada Allah melalui orang mati, mereka membubarkan dakwah Rasulullah bahkan memeranginya.

Kelakuan yang mirip dengan sebagian manusia yang mengaku sebagai muslim dan mengaku paling toleran.

Bukan Sok Suci tapi Malu, Bukan Jujur tapi Kurang Ajar

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa malu itu sebagian dari iman.

Jika orang risau dengan dosanya dan bahagia dengan amal salehnya, maka itu tanda ada iman dalam hatinya.
Sebaliknya, orang yang maksiat lalu dengan bangga menceritakan kemaksiatannya atau terang-terangan bermaksiat, maka ini maknanya sudah dieman Allah, disayang Allah, ditutupi aibnya dan diberi kesempatan bertaubat, tapi malah tidak menghargai tutup dari Allah itu dan merobeknya. Ini bukan jujur, tapi kurang ajar, tak tahu malu dan tak tahu diri kepada Allah.

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)


Yang juga dikuatirkan, maksiat tersembunyi yang diulang-ulang, akhirnya Allah tampakkan di depan manusia banyak.

Tafsir Sesat Wihdatul Wujud

1. Tafsir para ahli wihdatul wujud (manunggal, bersatu dengan Allah)

Para ahli wihdatul wujud – seperti Ibnu Aroby dan yang sepertinya – mereka mengatakan:

( لا اله الا الله )

Adalah tidak ada yang disembah melainkan Allah, atau tidak ada yang ada melainkan Allah, maknanya ini adalah bahwa semua yang disembah (diibadahi ) seluruhnya adalah Allah, karena menurut mereka bahwa yang ada ini tidak terbagi antara pencipta dan makhluk, semuanya adalah Allah, inilah sebab mereka dinamakan ahli wihdatul wujud, mereka menjadikan yang ada ini bersatu dan tidak terbagi

Maka apapun sesuatu yang manusia sembah, berarti ia telah menyembah Allah, orang yang menyembah sapi, orang yang menyembah berhala … semuanya mereka menyembah Allah, karena Allah adalah wujud yang mutlak.

Sedangkan (terhadap) orang yang mengatakan: bahwa yang ada itu terbagi kepada dua bagian, yaitu pencipta dan makhluk, mereka mengatakan tentangnya: sungguh ia musyrik

2. Tafsir Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Bahwasanya ( لا اله الا الله ) maknanya adalah: tidak ada yang disembah dengan benar kecuali Allah, karena yang disembah itu sangatlah banyak, akan tetapi yang disembah dengan benar Dia adalah Allah saja, sedangkan yang selainnya, menyembahnya merupakan kebatilan, sebagaimana Allah ta’ala berfirman :

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. ( QS Al Hajj 62 )

Diterjemahkan dan diringkas oleh Saudaramu La Ode Abu Hanafi dari kitab Silsilah Syarah Rosail 1/393 – 395 karya Sholeh Al Fauzan. Cetakan Dar alamiah


https://t.me/joinchat/-vI7te0yyQFkZDJl

https://t.me/joinchat/TBy3LmAjigbiQgtF

Ahlul Bid’ah dan Miskin Adab

Ahlul bid’ah adalah orang-orang yg paling gak tau diri dan miskin adab. Bagaimana tidak, mereka berani membuat syari’at baru yg sudah jelas ada larangannya, namun mereka mencari-cari dalih pembenaran untuk melegitimasi perbuatannya dan membuat beragam alasan bahwa apa yg mereka lakukan tidaklah tercela.

Lalu agar orang lain percaya mereka pun mengarang-ngarang cerita bahwa amalan yg mereka buat sudah mendapat restu dan persetujuan dari Rasulullah baik itu melalui mimpi atau bahkan katanya bertemu langsung secara sadar.


Tapi lucunya, mereka mensyaratkan ijazah bagi siapapun yg hendak mengamalkan dan mengajarkan bid’ah yg mereka buat dan melarang mereka untuk mengubah & mengutak-atiknya entah itu dalam lafadz, jumlah, waktu, tempat ataupun urutannya.

Abdul Hakim

Beratnya Dosa kepada Sesama Manusia

Bila engkau berjumpa dengan Allah dalam keadaan engkau membawa 70 kesalahan /dosa – selain syirik – yg dosa tersebut antara engkau dan Allah, itu lebih baik daripada engkau berjumpa dengan Allah meskipun hanya membawa satu dosa yang itu menyangkut antara engkau dengan manusia.

(Imam Sufyan Ats-Tsauri – رحمه الله )

Senangnya Punya Anak Perempuan

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Di antara orang-orang yang “setengah dijamin” masuk surga adalah mereka yang oleh Allah ditakdirkan memiliki 2 anak perempuan.

Orang yang diberi 2 anak perempuan, lalu diurus sebaik-baiknya, dibesarkan dengan kasih sayang, diajari hingga mandiri, dan dididik sampai menjadi salihah maka amalnya terhadap dua putrinya tersebut akan mengantarkannya ke surga. Al-Bukhārī meriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad sebagai berikut,

«عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ ‌مُسْلِمٍ ‌تُدْرِكُهُ ‌ابْنَتَانِ، ‌فَيُحْسِنُ صُحْبَتَهُمَا، إِلَّا أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ”». [«صحيح الأدب المفرد» (ص57)]

Artinya,

“Dari Ibnu Abbās dari Nabi ﷺ beliau bersabda, “Tidaklah ada seorang muslim yang mendapatkan 2 anak putri, lalu mengurusnya dengan baik kecuali kedua putrinya tersebut akan memasukkannya ke dalam surga” (al-Adab al-Mufrad hlm 57)

Jangan pernah meremehkan amal mendidik anak perempuan.

Mendidik anak perempuan itu tidak mudah.

Apalagi di zaman penuh fitnah semacam ini.

Zaman di mana freesex sudah merajalela, narkoba mudah didapatkan, internet yang mengajarkan akhlak buruk mudah diakses, wanita bisa kontak dengan lelaki manapun hanya dengan ponsel dari kamar mereka, dan bisa pergi kemanapun hanya dengan grab/gojek, maka mendidik anak perempuan di zaman edan seperti ini sungguh benar-benar tugas yang tidak mudah.

Orang tua tidak hanya harus berjibaku mencari nafkah menyediakan uang untuk biaya makan, pakaian dan tempat tinggal mereka. Tetapi juga harus memikirkan biaya pendidikan yang terus naik dan biaya kesehatan yang tak terduga, sementara penghasilan bagi rumah tangga tertentu juga tidak selalu jelas. Juga harus rajin-rajin berdoa, menangis di tengah malam, dan menghiba-hiba kepada Sang Pencipta, agar menjaga anak-anak putrinya, agar melindungi anak-anak putrinya, agar selalu memberi petunjuk jalan yang lurus sehingga anak tidak terpengaruh semua pergaulan yang menjerumuskan.

Bukan kah banyak orang tua yang berangkat pagi pulang malam, sampai lembur-lembur dan begadang demi anak?

Apalagi jika yang mengurus anak perempuan adalah janda. Yang ditinggal mati suaminya. Yang dicerai suaminya. Yang dihianati suaminya. Yang berjuang sendirian dengan segala keterbatasannya sebagai seorang wanita. Yang kadang dilecehkan lelaki, diberi harapan palsu, dipermainkan perasaannya, bahkan ditipu dan disakiti setelah segala madunya dihisap.

Sungguh benar-benar tidak mudah mengurus anak-anak perempuan.

Oleh karena itu, sungguh wajar jika balasannya sangat besar. Yakni dijanjikan masuk surga karena amal membesarkan 2 anak putri tersebut.

Hanya saja, di awal tulisan saya beri penekanan bahwa mengurus 2 anak perempuan itu “setengah dijamin masuk surga”. Bukan pasti masuk surga. Jaminan masuk surga bagi orang yang diuji dengan 2 anak wanita sudah jelas dinyatakan dalam hadis. Tetapi pelaksanaannya masih harus dikembalikan kepada orang tua yang mendapatkan amanah tersebut.

Jika orang tua bisa mengatur niatnya bahwa membesarkan anak perempuan adalah amanah dari Allah dan punya misi mensalihahkan anak tersebut, maka insya Allah dapat janji penuh dalam hadis itu. Tapi jika niatnya adalah untuk memburu kebanggaan, pamer pada manusia, berharap dirawat anak di masa tua atau motif-motif duniawi yang lain, maka di akhirat dia tidak akan mendapatkan apa-apa.

Pertanyaannya, “Bagaimana jika yang diurus bukan 2 anak perempuan tapi bahkan 3 atau lebih?”

Jika dua anak perempuan saja sudah mendapatkan janji masuk surga, maka diuji 3 anak perempuan lebih layak lagi mendapatkan janji tersebut. Lebih-lebih ada hadis sahih yang memang menyebut mengurus 3 anak perempuan dipastikan akan masuk surga. Apalagi jika putrinya 4 atau lebih dari itu.

Lebih-lebih jika yang mengurus ini seorang janda atau wanita yang karena sebab tertentu harus mengurus anak sendirinya. Ada hadis sahih yang juga lugas menjamin wanita yang tabah mengurus 2 anak putrinya karena Allah dengan segenap kemiskinannya, bahwa dia juga dipastikan akan masuk surga. Muslim meriwayatkan,

عَنْ ‌عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: « جَاءَتْنِي مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلَاثَ تَمَرَاتٍ، فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً، وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا، فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا، فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا، فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ قَدْ ‌أَوْجَبَ ‌لَهَا ‌بِهَا ‌الْجَنَّةَ، أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ .». [«صحيح مسلم» (8/ 38 ط التركية)]

Artinya,

“Dari ‘Aisyah dia berkata: “Telah datang kepadaku seorang wanita miskin yang membawa dua anak perempuan, lalu saya memberinya makan dengan tiga buah kurma, wanita tersebut memberikan kurmanya satu persatu kepada kedua anaknya, kemudian wanita tersebut mengangkat satu kurma ke mulutnya untuk dia makan. Tapi, kedua anaknya meminta kurma tersebut, akhirnya dia pun memberikan (kurma) yang ingin ia makan kepada anaknya dengan membelahnya menjadi dua. Saya sangat kagum dengan kepribadiannya. Lalu saya menceritakan apa yang diperbuat oleh wanita tersebut kepada Rasulullah ﷺ . Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadanya untuk masuk surga atau membebaskannya dari neraka.” (H.R.Muslim)

Jadi, engkau para wanita yang mungkin disakiti suami, atau ditinggal pergi, atau ditinggal wafat atau dikhianati dan punya 2 putri, sekarang engkau punya tujuan hidup yang jelas dan terarah. Fokuslah mensalihkan 2 putri tersebut hingga dewasa. Walaupun mungkin harus mengorbankan sebagian kebahagiaanmu. Setelah itu tunggu memetik hasilnya di akhirat. Karena Allah akan menikahkanmu di surga dengan lelaki saleh yang membuatmu 1000 kali melayang bahagia daripada dilamar lelaki di dunia.

CATATAN

Untuk mereka yang hanya memiliki 1 putri, jangan khawatir. Ada juga hadis yang menyebut janji yang sama untuk satu putri. Hanya saja, kebanyakan riwayat menyebut putri lebih dari satu sehingga punya anak putri lebih dari satu memang memiliki keutamaan lebih dibandingkan yang hanya satu.

Muafa

Jilbab dan Aib Fisik

Bagi sebagian wanita, berjilbab lebih ditujukan untuk menutup aib fisik, bukan menutup aurat atas perintah agama. Setelah aib tersebut hilang dan merasa pede dengan penampilan fisiknya, baru mereka lepas dan buka-bukaan.

Yosia C Sulistian

Blog at WordPress.com.

Up ↑